Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok suporter sepak bola dari beragam bagian bumi meluncurkan petisi nan mendesak Gianni Infantino mundur dari kedudukan Presiden FIFA. Petisi juga menuntut reformasi besar-besaran di tubuh organisasi sepak bola bumi tersebut.
Desakan muncul setelah Infantino terpaksa membatalkan rencana mencari investasi swasta untuk mengelola turnamen-turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia putra dan putri. Kontroversi itu apalagi membikin tiga konfederasi sepak bola kontinental menuduh Infantino melakukan "penipuan".
Tuduhan tersebut disampaikan melalui surat terbuka pada pekan lampau mengenai langkah rencana investasi tersebut disusun dan dipresentasikan. UEFA juga disebut beriktikad memboikot acara-acara FIFA setelah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.
Meski demikian, Infantino tetap memperoleh support kuat, terutama dari Afrika dan Amerika Selatan. Namun, tekanan sekarang datang langsung dari golongan suporter dengan diluncurkannya petisi melalui Change.org.
"Upaya memalukan oleh satu individu, Presiden FIFA sendiri, untuk menjual Piala Dunia kepada penanammodal swasta telah memperlihatkan sebuah pengkhianatan nan tidak bakal pernah dilupakan sepak bola," demikian pernyataan golongan suporter, dikutip dari The Guardian, Jumat (21/8/2026).
Kelompok tersebut menuding rencana Infantino disusun secara diam-diam, dinegosiasikan di kembali pintu tertutup, serta tidak diketahui oleh personil FIFA sendiri maupun jutaan fans nan menjadi bagian krusial dari sepak bola. Petisi tersebut telah mendapatkan support dari golongan suporter tingkat kontinental dan nasional nan mencakup seluruh enam konfederasi FIFA.
"Seorang presiden nan berulang kali mengingkari sepak bola dan mempermainkan olahraga ini telah kehilangan kewenangan untuk memimpinnya," kata mereka.
"Demi kredibilitas FIFA dan masa depan sepak bola, dia kudu mengundurkan diri," tambah petisi itu.
Tuntutan golongan suporter tidak berakhir pada pengunduran diri Infantino. Petisi tersebut juga mendesak adanya reformasi tata kelola FIFA, termasuk memberikan keterlibatan umum kepada suporter dan pemangku kepentingan utama sepak bola dalam pengambilan keputusan nan menentukan masa depan olahraga tersebut.
Direktur Eksekutif Football Supporters Europe (FSE) Ronan Evain mengatakan, kepergian Infantino merupakan langkah pertama nan diperlukan. Namun, menurutnya, pergantian presiden saja tidak cukup andaikan sistem tata kelola FIFA tidak ikut dibenahi.
"Kepergian Gianni Infantino adalah langkah pertama dan sebuah keharusan, tetapi itu hanya bakal memberikan akibat positif jika kemudian diikuti dengan reformasi kedudukan dan tata kelola," ujar Evain.
Ia menilai konsentrasi kekuasaan nan terlalu besar di tangan seorang presiden menunjukkan tata kelola FIFA saat ini tidak lagi memadai. "Jika seseorang bisa memusatkan begitu banyak kekuasaan di tangannya, maka tata kelola FIFA sudah tidak lagi memadai alias sesuai dengan tujuannya," katanya.
Evain apalagi menyerukan agar FIFA membangun kembali sistem tata kelolanya dari awal. Ia bilang, beragam reformasi nan diperkenalkan sejak 2016 telah dihapus alias kehilangan relevansinya selama kepemimpinan Infantino.
"FIFA perlu memulai dari awal. Seluruh reformasi sejak 2016 telah dihapus alias dibuat tidak relevan oleh Infantino," ujarnya.
Evain juga bilang, FIFA perlu lebih terbuka dalam mencari model baru untuk tata kelola sepak bola, termasuk mempelajari sistem nan digunakan di luar sepak bola maupun bumi olahraga. Salah satu pendapat nan dinilainya menarik adalah sistem kepemimpinan bergilir nan dapat mencegah terlalu besarnya kekuasaan terpusat pada satu orang.
"Ada model-model lain di luar bumi sepak bola maupun olahraga nan patut dipertimbangkan, semisal pendapat mengenai sistem kepresidenan bergilir tampaknya menarik," kata ia.
47 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·