Ramai Peserta Terobos Barikade saat Kena COP di JRF 2026, Ini Respons Dokter Tirta

Sedang Trending 13 jam yang lalu

Niko Prayoga , Jurnalis-Minggu, 25 Oktober 2026 |10:11 WIB

Ramai Peserta Terobos Barikade saat Kena COP di JRF 2026, Ini Respons Dokter Tirta

Respons dr. Tirta bagi peserta nan diduga menerobos barikade saat kena COP di JRF 2026. (Foto: dok Instagram/dr.tirta)

JAKARTA - Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi memberikan respons mengenai viralnya kejadian peserta menerobos barikade saat terkena Cut Off Point (COP) dalam kategori Half Marathon Jakarta Running Festival 2026.

Tanggapan tersebut dibagikan dr. Tirta dalam sebuah video di akun IG pribadinya. Dalam unggahan tersebut, master nan juga dikenal sebagai runner dan aktif mengampanyekan style hidup sehat ini menegaskan pentingnya para pelari untuk memahami izin perlombaan daripada meluapkan emosi saat kandas mencapai garis finish.

"Buat kawan-kawan semua, ini tadi di JRF ada rame-rame nan banyak pelari nan kena cut off point di HM (half marathon), disapu, marah-marah. Katanya ‘Ya saya ini kan di koral 8, telat 27 menit. Harusnya panitia kompensasi. Ya kami kan pelari pelan, harusnya ditaruh koral 1’ woi, Anda tuh harusnya baca dulu peraturannya,” ujar dr. Tirta, dikutip Sabtu (24/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa sistem kalkulasi pemisah waktu alias COP nan diterapkan pihak penyelenggara merujuk pada gun time waktu resmi nan dihitung sejak bendera start dikibarkan bukan dari waktu masuknya peserta berasas pembagian koral (corral).

“JRF itu sudah membikin edukasi dari 3 tahun lalu, apa bedanya COP dan COT, ah apalah itu, di Instagram. COP itu dihitung dari gun time, bukan dari koral kalian. Kenapa diberlakukan itu? Ya lantaran pesertanya banyak dan agar kalian pertimbangan diri! Jadi enggak asal daftar,” lanjutnya.

Aturan Keselamatan dan Batas Waktu Bukan Hal Baru

Dokter Tirta mengungkapkan, patokan standar keselamatan dan pemisah waktu ketat ini bukan perihal baru di kancah arena lari dunia. Dokter nan kegemaran berolahraga lari ini menuturkan bahwa beragam arena maraton internasional pun menerapkan sistem sweep hingga penutupan gate nan jauh lebih ketat demi ketertiban serta keselamatan seluruh peserta.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑