Para intelektual dari Center for Lunar Origin and Evolution, sebuah organisasi virtual NASA nan dipimpin oleh Southwest Research Institute, mempelajari material nan digali ketika sebuah barang penabrak besar menciptakan cekungan South Pole-Aitken (SPA) antik ((NASA/JPL-Caltech/Goddard/Gabe Gowman-U. Arizona. Data dari misi GRAIL NASA dan Lunar Reconnaissance Orbiter Laser Altimeter NASA.)
SEBUAH tabrakan kosmis purba nan sangat masif diduga telah meninggalkan rahasia terdalam Bulan di letak nan mengejutkan, sangat dekat dengan area pendaratan misi Artemis di masa depan. Melalui simulasi komputer mutakhir, para intelektual sukses merekonstruksi peristiwa tumbukan nan membentuk Cekungan South Pole-Aitken (SPA), kawah terbesar dan tertua di Bulan.
Hasil penelitian mengungkap hantaman bersudut landai dari objek besar berinti besi telah mengikis dan melontarkan material dari bagian dalam Bulan, termasuk batuan mantelnya. Penemuan dari dua studi terintegrasi ini dipimpin tim Center for Lunar Origin and Evolution (CLOE) di bawah Southwest Research Institute (SwRI) nan berkolaborasi dengan NASA. Studi ini memberikan pandangan baru mengenai proses terbentuknya cekungan raksasa tersebut dan letak persis material berbobot Bulan saat ini.
Cekungan SPA sendiri terletak di sisi jauh Bulan dan menjadi salah satu struktur tertua nan tetap awet di tata surya kita. Karena ukuran dan usianya nan luar biasa, para intelektual menganggapnya sebagai rekam jejak unik dari sejarah awal Bulan.
"Cekungan ini menawarkan kesempatan langka bagi para intelektual untuk mempelajari sejarah awal Bulan," ujar Dr. William Bottke, kepala CLOE sekaligus penulis pendamping studi tersebut. "Tabrakan itu menghantam permukaan bulan dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga mungkin telah menggali material dari jauh di dalam Bulan, termasuk bagian dari mantel bulan."
Model simulasi menunjukkan bahwa objek nan menabrak Bulan bukanlah sekadar bongkahan batu biasa, melainkan sebuah protoplanet mini alias asteroid terdiferensiasi nan mempunyai inti besi dan diselimuti batuan. Objek ini datang dari arah utara menuju selatan sebelum akhirnya menghantam Bulan pada perspektif nan landai. Sudut kemiringan inilah nan menjelaskan kenapa kawah SPA berbentuk memanjang dan meruncing nan khas.
"Simulasi kami menghasilkan corak dan sifat nan tepat dari cekungan akibat tersebut. Ini juga memberi tahu kita tentang proyektil nan menciptakannya dan arah dampaknya," kata Dr. Shigeru Wakita dari Universitas Purdue, penulis utama studi akibat SPA.
Benturan luar biasa tersebut menghasilkan panas ekstrem nan melelehkan batuan di tengah cekungan serta melontarkan material kerak dan mantel Bulan ke luar angkasa. Sebagian besar material tersebut akhirnya jatuh kembali dan menumpuk di dalam cekungan.
Pada studi kedua, kajian info gravitasi beresolusi tinggi menunjukkan bahwa material mantel ini tersebar di seluruh cekungan dan lapisan luar di sekitarnya. Tabrakan-tabrakan mini nan terjadi setelahnya di area SPA turut mengikis endapan nan terkubur tersebut dan membawanya ke permukaan. Hal ini membuka kesempatan besar bagi misi robotik maupun astronot masa depan untuk menjangkaunya.
"Distribusi tepat dari material mantel telah menjadi ketidaktahuan nan besar," kata Dr. Gabriel Gowman dari Universitas Arizona, penulis utama studi berbasis gravitasi. "Model kami menunjukkan bahwa akibat SPA melontarkan cukup banyak material dalam untuk membentuk endapan signifikan nan semestinya tetap dapat diakses saat ini. nan paling penting, beberapa dari material tersebut dalam tingkat kelumit mungkin ada di wilayah nan sedang dipertimbangkan untuk pendaratan Artemis."
Sebelumnya, materi terdalam ini diperkirakan terkonsentrasi jauh dari kutub selatan Bulan. Namun, temuan baru ini justru membuktikan bahwa endapan mantel Bulan tersebar luas di wilayah kutub selatan, termasuk area nan bakal dikunjungi langsung oleh astronot Artemis.
"Kombinasi pemodelan akibat dan gravitasi memberi kita peta jalan nan kuat," tambah Bottke. "Ini memberi tahu kita tidak hanya gimana SPA terbentuk, tetapi juga ke mana kudu mencari batuan nan dapat menjawab beberapa pertanyaan terbesar kita tentang asal-usul dan perkembangan Bulan." (Science Daily/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·