Ilustrasi(Magnific)
SAAT batang tanaman patah alias daunnya dipangkas, kita sering memandang tanaman tersebut bisa tumbuh kembali. Banyak nan berasumsi tanaman hanya perlu membanjiri area nan terluka dengan persediaan makanan (gula) hasil fotosintesis. Namun, proses aslinya rupanya jauh lebih kompleks. Tidak seperti hewan nan bisa memperlebar pembuluh darah untuk menyalurkan daya ke area luka, tanaman mempunyai sistem "pipa" alias pembuluh nan kaku dan tidak bisa berpindah.
Sebuah studi terbaru nan dipublikasikan dalam jurnal bioRxiv sukses mengungkap gimana tanaman menyiasati keterbatasan ini. Penelitian nan dipimpin oleh Idan Efroni, seorang mahir biologi tanaman di Hebrew University of Jerusalem (HUJI), berbareng mahasiswa doktoralnya, Rotem Matosevich, menggunakan tanaman sawi mini (Arabidopsis thaliana) sebagai objek eksperimen.
Ketika para peneliti memotong ujung akar tanaman tersebut, mereka menemukan perihal nan kontradiktif. Sukrosa, jenis gula utama nan biasanya dialirkan tanaman, justru berakhir tepat sebelum area luka dan tidak bisa masuk ke area regenerasi. Padahal, pasokan gula dari daun sangat dibutuhkan agar sel-sel baru bisa membelah dan memulihkan jaringan nan rusak.
Misteri ini terpecahkan berkah support Glifon, sebuah sensor bercahaya nan awalnya dikembangkan untuk melacak gula di dalam sel manusia dan hewan. Melalui sensor ini, tim peneliti memandang kejadian nan belum pernah disaksikan sebelumnya: tanaman rupanya tidak menggunakan sukrosa, melainkan menciptakan "titik panas" (hotspot) berisi glukosa, jenis gula nan lebih sederhana, tepat di bawah area luka.
Proses ini digerakkan respons genetik nan sangat cepat. Hanya dalam hitungan jam setelah terluka, tanaman mengaktifkan gen tertentu untuk membangun sistem mekanis dua komponen. Pertama, enzim unik bakal memotong sukrosa menjadi glukosa di luar sel. Kedua, sebuah pompa seluler bakal menarik glukosa tersebut ke dalam sel-sel nan sedang memperbaiki diri.
Mekanisme ini berfaedah layaknya "jebakan gula". Dengan mengubah sukrosa menjadi glukosa dan menariknya masuk, konsentrasi gula di sekitar luka tetap rendah, nan secara alami memicu pasokan gula terus mengalir ke area tersebut tanpa kudu mengubah struktur pembuluh tanaman nan kaku.
Menariknya, sistem ini sudah disiapkan sejak awal oleh tanaman, bukan dirakit sebagai reaksi darurat saat sel mulai kelaparan. “Cedera disertai dengan perubahan transportasi gula nan sigap dan terlokalisasi,” ujar Efroni.
Ketika tim peneliti mencoba memodifikasi gen importir gula ini agar bekerja lebih aktif, tanaman bisa pulih lebih sigap dengan hanya menghabiskan sepertiga dari total gula nan biasanya dibutuhkan oleh tanaman normal.
Penemuan ini membuka kesempatan praktis nan besar bagi sektor pertanian. Tanaman budidaya sering kali mengalami kerusakan bentuk akibat badai, hama, alias mesin pertanian di tengah kondisi susah seperti kekeringan. Dengan memahami dan mengoptimalkan efisiensi sistem "jebakan gula" ini, intelektual ke depan dapat mengembangkan varietas tanaman nan bisa pulih jauh lebih sigap meski dalam kondisi minim energi. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·