Rahasia Buah Tetap Segar Lebih Lama: Ilmuwan Gunakan Tanah Liat Biasa!

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Ilmuwan Gunakan Tanah Liat Biasa! Ilustrasi(Magnific)

BUAH-buahan nan Anda nikmati di rumah sering kali kudu menempuh perjalanan ribuan kilometer sebelum sampai ke dapur. Mulai dari alpukat asal Cile, pisang dari Kosta Rika, hingga mangga dari Brasil, semuanya menghabiskan waktu berhari-hari apalagi berminggu-minggu dalam rantai pasokan.

Sayangnya, perjalanan panjang ini menyimpan masalah besar. Jutaan ton buah dan sayuran membusuk apalagi sebelum sempat dipajang di rak toko. Sebagian besar dari kerugian tersebut dipicu oleh senyawa alami nan dihasilkan oleh buah itu sendiri, ialah gas etilen.

Ketika Proses Pematangan Mempercepat Pembusukan

Etilen merupakan hormon tumbuhan berbentuk gas nan dilepaskan secara alami oleh banyak buah dan sayuran seiring proses kematangannya. Gas ini berfaedah mengendalikan pematangan. Namun, ketika produk-produk tersebut dikemas rapat di dalam kontainer pengiriman alias akomodasi penyimpanan, gas etilen bakal terperangkap dan menumpuk. Akibat tingginya konsentrasi gas ini, buah dan sayur bakal matang jauh lebih sigap dari waktu normal, lampau membusuk sebelum sempat dikonsumsi.

Kini, para intelektual meyakini bahwa material nan sangat sederhana dan tidak terduga dapat mengatasi masalah tersebut: tanah liat.

Material Alami dengan Fungsi Baru

Para peneliti di Universitas Kopenhagen menemukan bahwa tanah liat biasa dapat menjadi senjata baru nan sangat berfaedah dalam memerangi pemborosan makanan (food waste). Melalui rekayasa material untuk memerangkap etilen, tim peneliti berambisi dapat memperlambat proses pematangan buah segar selama masa pengiriman dan penyimpanan.

Riset ini dipimpin oleh Profesor Heloisa Bordallo dari Niels Bohr Institute. Ia menjelaskan potensi besar di kembali material bumi nan melimpah ini.

"Tanah liat adalah material nan menarik lantaran sifatnya nan alami, murah, tidak beracun, mudah ditemukan di mana saja, dan dapat diserap oleh tubuh kita dengan aman," ujar Bordallo. "Pemikiran kami adalah: Bisakah kami menggunakan pengetahuan kimia dan fisika untuk memodifikasi tanah liat agar dapat menangkap gas tersebut sehingga memperlambat proses pematangan? Kami telah sukses melakukannya."

Pada awal eksperimen, para peneliti menguji tanah liat dalam corak alaminya, namun material tersebut hanya bisa menyerap sedikit gas etilen. Tim kemudian menerapkan perlakuan kimia ringan untuk memperbesar ruang-ruang mikroskopis di dalam struktur tanah liat. Hasilnya, modifikasi ini sukses membikin tanah liat menangkap gas etilen dalam jumlah nan jauh lebih signifikan.

Melalui penemuan pemanfaatan tanah liat nan murah dan kondusif ini, industri logistik pangan masa depan diharapkan dapat menekan nomor kerugian pascapanen secara drastis, sekaligus memastikan konsumen mendapatkan kualitas buah nan lebih segar, sehat, dan tahan lama. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia