Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin secara mengejutkan memberikan sinyal kuat bahwa perang antara negaranya dengan Ukraina nan telah berjalan selama lebih dari empat tahun sekarang mulai mendekati babak akhir. Pernyataan tersebut disampaikan oleh orang nomor satu di Rusia tersebut usai menghadiri rangkaian aktivitas Hari Kemenangan di Moskow pada Minggu (10/05/2026).
Mengutip Al Jazeera, Vladimir Putin menyatakan kesiapannya untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, baik itu di Moskow maupun di negara netral. Namun, pernyataan ini tetap diikuti dengan sikap kerasnya nan kembali menyalahkan pihak Barat lantaran dianggap memperpanjang pertempuran melalui support militer kepada Kyiv.
"Saya pikir masalah ini bakal segera berakhir," kata Putin kepada wartawan saat menyinggung soal perang Rusia-Ukraina nan menjadi bentrok paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Meskipun memberikan sinyal perdamaian, Vladimir Putin menegaskan bahwa dirinya hanya bersedia berjumpa dengan Zelensky setelah syarat-syarat perjanjian perdamaian telah diselesaikan terlebih dahulu. Hal ini sekaligus mempertegas posisi Kremlin nan sebelumnya menolak tawaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Agustus 2025 untuk mengadakan pertemuan trilateral.
"Ini kudu menjadi poin akhir, bukan negosiasi itu sendiri," tutur Putin setelah peringatan Hari Kemenangan nan menandai kemenangan Rusia atas Nazi Jerman pada tahun 1945 silam.
Dalam kesempatan tersebut, Putin juga mengungkapkan keinginannya untuk menegosiasikan pengaturan keamanan baru dengan Eropa. Secara spesifik, dia menyebut mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder sebagai mitra negosiasi pilihannya, meski sosok tersebut kerap dikritik di Jerman lantaran hubungan dekatnya dengan sang Presiden Rusia.
Rusia sendiri secara konsisten menuduh Barat memperluas aliansi keamanan NATO untuk mengepung negaranya, nan kemudian dijadikan salah satu pembenaran atas invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Ketika ditanya apakah support militer Barat untuk Ukraina sudah keterlaluan, Putin menjawab dengan tegas bahwa eskalasi dimulai dari pihak lawan.
"Mereka mulai meningkatkan konfrontasi dengan Rusia, nan bersambung hingga hari ini," ujar Putin.
Lebih lanjut, Putin menilai bahwa negara-negara Barat telah menghabiskan waktu berbulan-bulan dengan angan memandang Rusia mengalami kekalahan telak hingga keruntuhan negara. Namun, dia menegaskan bahwa upaya-upaya nan dilakukan oleh pihak Barat tersebut tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Dan kemudian mereka terjebak dalam alur itu, dan sekarang mereka tidak bisa keluar darinya," tambah Putin.
Sinyal berakhirnya perang ini muncul di tengah tekanan ekonomi nan berat bagi kedua negara dan adanya gencatan senjata jangka pendek selama tiga hari nan didukung oleh Amerika Serikat. Namun, pengamat dari Chatham House, Keir Giles, menilai bahwa pernyataan Vladimir Putin tersebut lebih didorong oleh angan dunia dibandingkan realita di lapangan.
"Janji-janji bahwa akhir perang sudah dekat telah banyak muncul selama 18 bulan terakhir, namun tidak ada nan menjadi kenyataan. Hal terbaik nan bisa kita harapkan adalah sekarang Putin menyadari bahwa Rusia sebenarnya tidak memenangkan perang," kata Giles.
Menurut Giles, Putin mungkin sekarang lebih bersedia untuk menangguhkan bentrok dibandingkan sebelumnya. Ia menilai pada masa lampau Putin sempat menolak upaya perdamaian Trump lantaran percaya Rusia bisa mendapatkan untung lebih banyak dengan terus bertempur daripada dipaksa melakukan gencatan senjata.
Hingga saat ini, perang telah menewaskan puluhan ribu orang di kedua belah pihak, menghancurkan sebagian besar wilayah Ukraina timur, dan menguras ekonomi Rusia nan berbobot US$3 triliun. Meskipun Rusia menguasai nyaris seperlima wilayah Ukraina, mereka tetap kesulitan untuk merebut wilayah Donbas secara penuh, sementara serangan jawaban Ukraina juga belum sukses merebut kembali area pendudukan utama.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·