
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya skema nilai gas nan kompetitif dari Blok Masela. (Foto: Okezone.com/IMG)
JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya skema nilai gas nan kompetitif dari Blok Masela. Dalam rapat koordinasi percepatan proyek, Purbaya menyatakan nilai gas nan wajar tidak hanya diperlukan untuk bersaing di pasar global, tetapi juga sebagai pendorong industri domestik nan saat ini terbebani biaya daya tinggi.
Ia menyoroti realitas nilai gas saat ini nan berada di atas USD 12 per MMBTU, nan dianggap memberatkan pelaku upaya dalam negeri.
"Saya ini ngelihat gini kan, kita pengusaha beli gas harganya mahal sekarang 12 dolar lebih. Ini ada produksi nan bakal besar ke depan kan," ujar Purbaya usai memimpin Sidang Debottlenecking Investasi, Selasa (24/2/2026).
Adapun Purbaya secara spesifik meminta agar besarnya potensi produksi gas dari Lapangan Abadi ini dapat memberikan nilai tambah bagi penguatan struktur industri nasional melalui nilai nan lebih terjangkau.
"Bisa enggak ini dipakai untuk mensupport industri dalam negeri dengan nilai nan lebih murah. Nanti kita pikirkan itu," tegasnya.
Pada saat rapat berlangsung, Purbaya juga mempertanyakan periode pemisah nilai nan dianggap layak oleh Inpex agar akomodasi produksi tetap menguntungkan secara upaya namun tetap kompetitif.
"Berapa nilai pasar nan layak bagi kalian untuk mengoperasikan akomodasi ini secara menguntungkan?" tanya Purbaya kepada manajemen Inpex.
Selain itu, Purbaya mempertanyakan kepantasan proyek gas jumbo Blok Masela nan digarap oleh Inpex Corporation Ltd, terutama dari sisi keekonomian nilai gas. Hal tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela nan dia pimpin di Kementerian Keuangan.
Menanggapi pertanyaan Menkeu, Project Director Inpex Masela, Harrad Blinco, mengungkapkan bahwa memperkirakan kisaran nilai keekonomian sangat susah mengingat biaya investasi pembangunan kilang LNG nan terus membengkak setiap tahunnya.
Blok Masela mempunyai nilai investasi mencapai USD 21 miliar (sekitar Rp 352 triliun) dengan kapabilitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) dan 150 MMSCFD gas pipa, serta mempunyai potensi persediaan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) di Laut Arafura.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·