Purbaya: Subsidi dan Kompensasi Tembus Rp 233 Triliun hingga Semester I 2026

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengikuti rapat kerja dengan Banggar DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan realisasi shopping subsidi dan kompensasi dalam APBN 2026 mencapai Rp 233 triliun hingga semester I 2026. Angka tersebut meningkat 44,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode nan sama tahun lampau sebesar Rp 161,4 triliun. Dalam kitab APBN KiTa jenis Juli 2026, realisasi tersebut setara dengan 52,1 persen dari total pagu APBN tahun ini. Nilainya terdiri atas shopping subsidi sebesar Rp 116 triliun dan pembayaran kompensasi Rp 116,9 triliun. “Realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh perubahan ICP (harga minyak mentah Indonesia), nilai tukar, serta peningkatan volume BBM, LPG, dan listrik bersubsidi,” tulis Kementerian Keuangan dalam laporannya, dikutip Selasa (28/7). Purbaya menjelaskan, kenaikan shopping subsidi dan kompensasi tidak lepas dari lonjakan nilai daya dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah nan membikin APBN kudu bekerja lebih besar sebagai peredam gejolak (shock absorber). Dalam laporan tersebut, pemerintah mencatat nilai minyak mentah Brent mencapai USD 85 per barel pada Juli 2026. Harga itu naik 22,7 persen secara tahunan dan melonjak 39,6 persen sejak awal tahun (year to date/ytd), sehingga menambah beban subsidi energi. Selain aspek harga, peningkatan konsumsi daya juga ikut mendorong kenaikan anggaran. Penyaluran BBM bersubsidi hingga semester I 2026 mencapai 7.989,5 ribu kiloliter (KL), meningkat 7,8 persen dibandingkan periode nan sama tahun lampau sebesar 7.410,1 ribu KL.

Suasana pengisian bahan bakar terlihat di salah satu SPBU di Jakarta, Sabtu (18/4/2026), di tengah penyesuaian nilai bahan bakar minyak (BBM) oleh PT Pertamina (Persero). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kenaikan konsumsi BBM bersubsidi terjadi di tengah naiknya nilai Pertamax nan dijual PT Pertamina Patra Niaga dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter sejak 10 Juni 2026. Kondisi tersebut memunculkan potensi peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Tak hanya BBM, volume penyaluran LPG 3 kilogram juga naik 2 persen menjadi 3.563,0 juta kilogram. Sementara jumlah pengguna listrik bersubsidi bertambah 2,1 persen menjadi 43,1 juta pelanggan. Di luar sektor energi, kenaikan shopping subsidi juga didorong oleh peningkatan subsidi nonenergi. Penyaluran pupuk bersubsidi naik 21,4 persen secara tahunan, dari 3,7 juta ton pada semester I 2025 menjadi 4,5 juta ton pada semester I 2026. Adapun jumlah debitur penerima subsidi kembang Kredit Usaha Rakyat (KUR) meningkat 3,6 persen menjadi 2,4 juta debitur pada semester I 2026. Dalam kitab APBN KiTa, Purbaya juga menyebut pemerintah melakukan pembayaran kompensasi kepada BUMN sektor daya secara rutin setiap bulan sepanjang 2026. Skema ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya nan umumnya dilakukan pada akhir tahun, sehingga turut memengaruhi perkembangan realisasi pembayaran kompensasi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan