Jakarta -
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis perekonomian Indonesia tumbuh kuat pada triwulan II 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dia memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 berada di kisaran5,6-6%.
Menurut Purbaya, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam pembaruan laporan World Economic Outlook jenis Juli 2026 memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi April 2026 sebesar 3,1% di tengah kembali meningkatnya inflasi global.
Namun, menurutnya ekonomi Indonesia tetap bakal pulih dan tumbuh kuat. Hal ini disebabkan oleh daya beli masyarakat nan terjaga lantaran program stimulus ekonomi hingga perlindungan sosial, perihal tersebut mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekonomi Indonesia pada triwulan kedua 2026 diperkirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global. Daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga, didukung oleh absorber APBN dalam mendorong efektivitas program perlindungan sosial, stabilisasi nilai pangan dan energi, pembuatan lapangan kerja serta stimulus pada periode libur sekolah," kata Purbaya dalam konvensi pers hasil rapat berkala KSSK, di Kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Di sisi investasi, Purbaya mengatakan pertumbuhan diperkirakan tetap kuat berkah berlanjutnya proyek-proyek hilirisasi berbobot tambah tinggi dan pembangunan prasarana nan menjadi bagian dari program prioritas pemerintah.
Sementara itu, konsumsi pemerintah juga diperkirakan tumbuh positif seiring percepatan shopping program prioritas, pembayaran penghasilan ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN), serta penyaluran support sosial.
"Koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI terus diperkuat dalam menjaga kecukupan likuditas perekonomian dan perbankan. Ini tercermin dari pertumbuhan duit primer nan tinggi sepanjang triwulan II dan bersambung tumbuh 15,4% pada Juli, Minggu ketiga 2026 dan kegunaan intermediasi perbankan nan semakin baik," jelas Purbaya.
Sang Bendahara Negara juga menyoroti kondisi sektor manufaktur nan sempat melambat pada akhir triwulan II, namun kembali ekspansi pada Juli 2026. Hal itu tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur nan kembali naik ke level 50,2 alias pada rentang ekspansi.
Ke depan, Purbaya menegaskan sinergi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bakal terus diperkuat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
"Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 5,6-6% year-on-year ditopang beragam sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga personil KSSK lainnya, untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan," pungkas Purbaya menekankan.
(ily/hal)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·