Purbaya: Panda Bond Buat Biayai Proyek Infrastruktur RI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menkeu Purbaya memberika paparan saat penyerahan hasil lelang peralatan rampasan negara senilai Rp1.029.874.376.628 kepada Kementerian Keuangan dalam aktivitas nan digelar di Badan Pemulihan Aset (BPA), Jakarta, Senin (15/6/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa publikasi instrumen Panda Bond berdenominasi Yuan namalain Renminbi untuk bayar proyek produktif jangka panjang.

Purbaya menjelaskan, publikasi obligasi tersebut bermaksud untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan selain berbasis dolar AS dengan kembang rendah, sehingga diharapkan dapat memulihkan nilai tukar Rupiah.

"Katanya kok utang lagi ke sana? Enggak ngutang, Pak, enggak ngutang. Itu adalah untuk membiayain proyek-proyek produktif jangka panjang, infrastruktur, jalan tol segala macam nan ada return-nya," tegasnya saat Raker Komite IV DPD RI, Senin (22/6).

Dia menilai, daripada mengundang investasi asing untuk mendanai proyek di Indonesia, Panda Bond dinilai lebih menguntungkan lantaran bisa sekaligus mengurangi terpaan dolar AS nan kian menguat di tengah perang di Timur Tengah.

instagram embed

Pasalnya, Purbaya menyebut kembang nan dikenakan dalam Panda Bond lebih rendah. Meski tidak menyebut dengan spesifik, dia mengatakan bunganya hanya sekitar 3 persen. Dengan begitu, pemerintah bisa lebih leluasa melakukan pembayaran tanpa menakut-nakuti defisit anggaran.

"Daripada saya ngundang penanammodal asing, kasih duit nan sama, peralatan nan punya dia return-nya ke sana. Ini kan peralatan agak murah, jika di China mungkin 3 persen. nan jelas, peralatan nan punya kita, return-nya punya kita, kita balikin duitnya ke sana," ungkap Purbaya.

Dia juga optimistis upaya diversifikasi sumber pembiayaan ini dapat meningkatkan kepercayaan penanammodal di pasar keuangan, terlebih terhadap lembaga pemeringkat nan sedang memantau dengan ketat.

"Jadi jika saya ditekan lagi sama misalnya S&P alias nan lain-lain, kita bisa menunjukkan bahwa kita bisa mendapatkan sumber biaya nan berimbang, sehingga ke depan kita bakal lebih kuat lagi," katanya.

Menurutnya, keputusan diversifikasi sumber pembiayaan dengan negara ekonomi terbesar kedua di bumi tersebut juga lantaran Indonesia sudah mempunyai kerja sama bilateral swap serta local currency transaction (LCT).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berjumpa Menteri Keuangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Lan Fo'an di Beijing, China. Foto: Kemenkeu RI

Bahkan ke depannya, Purbaya menyebut pembayaran Panda Bond bisa dilakukan melalui kerangka LCT, sehingga paparan terhadap dolar AS semakin berkurang dan nilai tukar bisa semakin menguat secara signifikan,,

"Saya lagi pikir juga, kelak nan publikasi Panda Bond kan, mungkin kita pakai LTC saja, local currency transaction, di mana mereka hanya beli bayarnya pakai yuan, kelak bank sentral sana masing-masing mengatur, pokoknya saya terima rupiah. Jadi saya enggak terpengaruh ke perubahan alias tekanan dari dolar," ungkap Purbaya.

Sebelumnya, Purbaya melakukan lawatan kerja ke Beijing, China, dan menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan China, Lan Fo’an, di Kantor Kementerian Keuangan China pada Rabu (17/6).

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat akses pembiayaan pembangunan, memperluas pedoman investor, serta memperdalam hubungan ekonomi dengan negara-negara mitra strategis. Salah satu agenda utama nan dibahas dalam kunjungan tersebut adalah persiapan publikasi sovereign Panda Bond oleh Indonesia.

Selain berjumpa dengan Menteri Keuangan China, Purbaya juga dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan sejumlah pelaku upaya dan investor. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Menkeu turut dijadwalkan berjumpa dengan People’s Bank of China (PBOC), Shanghai Cooperation Organization (SCO) Development Bank, serta Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) guna memperkuat kerja sama pembiayaan dan investasi antara Indonesia dan China.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan