Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa(MI/Insi Nantika Jelita)
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku sempat merasa deg-degan memandang beragam keluhan mengenai kondisi ekonomi nan ramai diperbincangkan di media sosial di tengah tingginya ketidakpastian global. Namun, setelah mencermati sejumlah parameter ekonomi terbaru, dia mengaku lega lantaran info menunjukkan perekonomian Indonesia tetap cukup handal dan bisa melewati tekanan akibat gejolak global.
Dalam Rapat Kerja Komite IV DPD RI nan digelar secara daring, Senin (22/6), Purbaya mengatakan perekonomian dunia tetap dibayangi ketidakpastian, meski tekanan mulai mereda dalam sepekan terakhir. Menurutnya, kesempatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran nan semakin terbuka turut membantu menurunkan volatilitas dan ketidakpastian di pasar finansial global. Di tengah kondisi tersebut, nyaris seluruh negara menghadapi tekanan ekonomi, namun keahlian Indonesia dinilai tetap relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara setara.
"Alhamdulillah, di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan resiliensi," kata Purbaya.
Ia menjelaskan, ketahanan ekonomi nasional tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 nan mencapai 5,61%, inflasi nan tetap terkendali di level 3,08%, serta surplus neraca perdagangan selama tujuh bulan berturut-turut hingga April 2026. Selain itu, persediaan devisa dinilai memadai setara 5,6 bulan impor, sementara penyaluran angsuran perbankan tumbuh dua digit dengan likuiditas nan tetap kuat.
Purbaya mencatat angsuran perbankan nasional tumbuh 11,51% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026. Menurutnya, info tersebut menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi riil tetap melangkah dengan baik.
"Jadi nomor itu bukan nomor nan dibuat oleh pemerintah, itu kan info dari perbankan. Pertumbuhan ekonomi tetap kuat, ini menunjukkan memang ada betul-betul perbaikan di perekonomian," tegasnya.
Selain itu, sektor manufaktur juga kembali berada di area ekspansif dengan Purchasing Managers' Index (PMI) nan kembali menyentuh level 50. Ia menilai tren PMI nan berbalik naik menjadi sinyal positif bagi aktivitas industri nasional. Di sisi lain, aktivitas ekonomi domestik juga menunjukkan perbaikan nan tercermin dari konsumsi masyarakat nan tetap kuat, baik melalui Indeks Keyakinan Konsumen nan naik ke level 123 pada April 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya perbaikan daya beli masyarakat nan turut menopang pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini.
Menkeu menambahkan, beragam parameter ekonomi lainnya juga menunjukkan tren positif. Penjualan listrik tetap tumbuh pada April 2026, sementara penjualan mobil dan sepeda motor meningkat signifikan setelah periode Lebaran. Penjualan mobil tercatat tumbuh sekitar 55%, sedangkan penjualan sepeda motor naik 28,1%.
"Saya juga tadi deg-degan apakah betul keluhan nan disuarakan di banyak medsos itu berdasar. Kita lihat ketika lihat angkanya tumbuh, saya agak lega, berfaedah tidak seburuk nan diperkirakan," ujar Purbaya.
Indikator lain nan turut menguatkan optimisme pemerintah adalah konsumsi semen domestik nan tumbuh 35,6% secara tahunan pada April 2026. Menurutnya, nomor tersebut sejalan dengan aktivitas investasi nan tetap berjalan. Sementara itu, sektor manufaktur nan sempat melemah sekarang mulai menunjukkan perbaikan.
"Jadi bukan dari nomor produk domestik bruoto (PDB) saja, angka-angka non-PDB nan saya pakai untuk mengecek pertumbuhan ekonomi kita sepertinya memang tetap cukup kuat. Saya sempat cemas di bulan kedua bakal jatuh tajam, tapi dari sini saya agak lega, rupanya cukup kuat," katanya.
Purbaya juga menyoroti pertumbuhan angsuran nan tetap berada di kisaran dua digit hingga April dan Mei 2026. Menurutnya, perihal itu menunjukkan aktivitas ekonomi riil tetap berjalan dan menjadi bukti bahwa perekonomian nasional tetap bergerak di tengah beragam tantangan global.
Di sektor keuangan, dia mengakui pasar sempat menghadapi tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, koordinasi nan solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor finansial dinilai sukses menjaga stabilitas. Kondisi tersebut tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah, rebound di pasar saham, penurunan yield obligasi, serta masuknya kembali arus modal asing nan menunjukkan meningkatnya kepercayaan pasar.
Purbaya berambisi kesempatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dapat semakin memperkuat stabilitas ekonomi global. Jika nilai minyak bumi menurun, tekanan terhadap biaya daya dan inflasi domestik juga bakal berkurang sehingga momentum pertumbuhan ekonomi dapat semakin kuat.
"Tapi itu kan sudah menimbulkan kegaduhan," ucapnya saat menyinggung akibat kenaikan harga pertamax akibat lonjakan nilai minyak bumi beberapa waktu lalu.
Meski demikian, dia optimistis penurunan nilai minyak bumi ke depan bakal memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, gejolak dunia nan sempat terjadi menjadi ujian berat bagi perekonomian nasional, namun beragam parameter menunjukkan Indonesia sukses melewatinya.
"Kalau dari info nan kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu," tegas Purbaya.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi saat ini memang belum ideal. Namun beragam langkah mitigasi nan ditempuh pemerintah dinilai sukses menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif di tengah tekanan global. Dengan prospek membaiknya situasi geopolitik dan nilai daya nan lebih rendah, Purbaya berambisi keahlian ekonomi Indonesia pada paruh kedua 2026 dapat tumbuh lebih kuat. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·