Purbaya Jelaskan Maksud Prabowo Sebut 'Orang Desa Tidak Pakai Dolar'

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan maksud pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal 'orang desa nggak pakai dolar'. Pernyataan ini diungkapkan Prabowo waktu melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur beberapa hari lalu.

Purbaya mengungkapkan maksud Prabowo bicara seperti itu hanya untuk menghibur masyarakat desa agar tidak cemas dengan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah. Menurutnya, Prabowo mengerti soal sungguh pentingnya nilai tukar dolar AS, namun saat itu pernyataan diberikan hanya untuk menghibur.

"Untuk menghibur rakyat. Saya sih lihat konteksnya di perdesaan waktu kemarin itu, nggak apa-apa ngomong begitu. Bukan berfaedah presiden nggak ngerti dolar gitu," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pernyataan Prabowo jadi ramai lantaran banyak disebarkan. Namun, dia meyakini akibat nilai tukar dolar AS memang tak separah itu untuk masyarakat desa.

"Kan nan besar-besarkan kan Anda, media, terus disebar ke mana-mana. Kalau buat orang desa ya emang terlalu jauh lah (dampaknya nilai tukar dolar)," beber Purbaya.

Kenaikan Harga Impor

Purbaya juga bicara soal potensi akibat imported inflation alias kenaikan nilai nan terjadi lantaran peralatan impor nan dibeli menggunakan dolar AS. Misalnya, nilai tukar rupiah melemah membikin nilai kacang kedelai jadi mahal lantaran diimpor, akhirnya nilai tempe dan tahu naik.

Menurut Purbaya, imported inflation tidak bakal signifikan terjadi, apalagi dia bilang imported inflation bukan merupakan akibat nan pasti terjadi. Dia justru meragukan konsep imported inflation.

"Imported inflation secara teoritis nggak terlalu signifikan kok. Kalau Anda baca buku-buku ekonomi nan clear seperti itu, kadang-kadang jelas kadang-kadang nggak, sebagian meragukan adanya imported inflation," ujar Purbaya.

Dia mengungkapkan seringkali kenaikan nilai nan ditimbulkan imbas imported inflation juga tidak terjadi secara langsung. Bahkan, sebelum harganya naik di produk nan bergesekan dengan masyarakat, kenaikan nilai impornya justru sudah reda.

"Itu pasti ada delay dan kadang-kadang juga hilang. Jadi itu, jika di buku-buku, kadang-kadang buku-buku textbook nan betul ya, kadang-kadang ada, kadang-kadang nggak, kadang-kadang ada nan meragukan gitu," beber Purbaya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyinggung nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah hingga tembus Rp 17.500. Menurutnya saat ini nilai tukar mata duit Garuda itu tetap terkendali.

Menurutnya, perubahan nilai tukar dolar AS tak perlu terlalu dikhawatirkan oleh masyarakat, khususnya di desa. Ia menilai akibat pelemahan nilai tukar rupiah lebih banyak dirasakan oleh golongan nan sering bertransaksi alias berjalan ke luar negeri daripada orang desa.

"Nggak usah kalian cemas itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar," kata Prabowo dalam peresmian 1.062 Kopdes Merah Putih seperti dikutip dari siaran YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (16/5/2026) nan lalu.

(hal/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance