Purbaya Happy Defisit APBN Susut Jadi 0,6% PDB di April, Ini Sebabnya!

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menyatakan keahlian APBN hingga 30 April 2026 menunjukkan fondasi fiskal nan tetap kuat, dengan pendapatan nan tumbuh positif, shopping nan ekspansif namun terukur, serta defisit nan tetap terkendali untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

APBN mencatat defisit sebesar Rp164,4 triliun alias sekitar 0,64% terhadap PDB. Besaran defisit tetap dalam pemisah nan terjaga sesuai sasaran nan ditetapkan serta mencerminkan peran APBN sebagai instrumen stabilisasi sekaligus katalis pertumbuhan ekonomi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan keahlian defisit APBN membaik dibandingkan Maret 2026 nan defisit Rp 240,1 triliun alias setara 0,93% terhadap PDB. Defisit bisa diperkecil lantaran keseimbangan primer surplus Rp 28 triliun per 30 April 2026.

"Realisasi sampai April 2026 defisitnya tinggal Rp 164,4 triliun alias 0,64% dari PDB. Kemarin waktu keluar di Maret 2026 0,93%. Analis bilang jika pukul rata defisitnya bisa 3,6%. Hitungannya nggak begitu, jika langkah mereka (Analis) begitu, itu hitungan ajaib," paparnya dalam konvensi pers APBN KITA, Selasa (19/5/2026).

Adapun, menurut Purbaya, kondisi fiskal saat ini membaik. Pasalnya, keseimbangan primer sudah surplus lagi Rp 28 triliun. Dia percaya ke depan mungkin bakal terus membaik.

Sebagai catatan, surplus keseimbangan primer adalah kondisi di mana total pendapatan negara lebih besar daripada shopping negara, tanpa memperhitungkan pembayaran kembang utang. Ini juga berfaedah bahwa pemerintah tidak lagi menarik utang untuk menambal utang lama.

Jika keseimbangan primer terus surplus, maka beban utang negara secara berjenjang bakal lebih terkendali lantaran pemerintah tidak lagi berutang hanya untuk menutupi kekurangan kas operasional.

Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp918,4 triliun alias 29,1% dari sasaran APBN 2026. Capaian ini tumbuh positif sebesar 13,3% dibandingkan periode nan sama tahun lalu.

Kinerja ini terutama didorong oleh penerimaan pajak nan mencapai Rp646,3 triliun dengan pertumbuhan 16,1% (yoy), penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp100,6 triliun nan tumbuh 0,6% (yoy),serta PNBP sebesar Rp171,3 triliun nan juga tumbuh 11,6% (yoy).

Sementara itu, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp1.082,8 triliun alias 28,2% dari pagu APBN. Belanja Negara mengalami pertumbuhan sebesar 34,3% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp826 triliun, ditopang oleh peningkatan shopping Kementerian/Lembaga (K/L) maupun non-K/L. Sementara itu, Transfer Ke Daerah (TKD) terealisasi Rp256,8 triliun alias 37,1% dari sasaran APBN.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News