Rupiah Masih Tertekan, Bank Indonesia Diperkirakan Bakal Naikkan Suku Bunga

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan

Bank Indonesia (BI) bakal mengumumkan suku bunga referensi alias BI Rate dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Rabu (20/5). Saat ini, suku kembang BI berada di 4,75 persen.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan kesempatan terbesar dalam RDG pada Rabu (20/5) adalah suku kembang referensi nan dinaikkan sebesar 25 pedoman poin ke level 5 persen.

“Menurut saya, kesempatan paling besar untuk RDG BI sudah bergeser dari sekadar mempertahankan suku kembang menjadi meningkatkan suku kembang referensi sebesar 25 pedoman poin ke 5,00 persen,” kata Josua saat dihubungi kumparan, Rabu (20/5).

Menurutnya, kesempatan penurunan suku kembang nyaris tidak ada lantaran rupiah tengah berada di bawah tekanan berat. Selain itu, nilai minyak bumi tetap tinggi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,60 persen, serta pasar obligasi dan saham domestik juga mengalami tekanan.

“BI perlu mempertimbangkan untuk meningkatkan suku kembang referensi 25 pedoman poin ke 5,00 persen lantaran rupiah telah menyentuh sekitar Rp 17.700 per dolar AS dan BI sudah menggunakan lebih dari USD 10 miliar persediaan devisa dalam empat bulan terakhir untuk stabilisasi rupiah,” jelas Josua.

Josua menuturkan argumen utama kenaikan suku kembang bukan lantaran inflasi saat ini tinggi, melainkan akibat pelemahan nilai tukar dinilai sudah terlalu besar. Meski inflasi April 2026 turun menjadi 2,42 persen dan tetap berada dalam sasaran BI, pelemahan rupiah disebut berpotensi menekan nilai peralatan impor, energi, bahan baku, biaya produksi, hingga ekspektasi pasar.

“Jika BI hanya mengandalkan intervensi valas, SRBI, DNDF, dan operasi moneter tanpa meningkatkan suku bunga, pasar bisa menilai bahwa respons kebijakan belum cukup kuat,” ungkap Josua.

Meski persediaan devisa tetap tinggi di level USD 146,2 miliar, jumlah tersebut turun dari USD 148,2 miliar pada Maret akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan stabilisasi rupiah.

Sejumlah pekerja melangkah di area Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Namun, Josua mengatakan opsi mempertahankan suku kembang tetap terbuka jika BI mau menghindari tekanan tambahan terhadap kredit, konsumsi, UMKM, dan biaya pembiayaan pemerintah.

Pada RDG April 2026, BI mempertahankan suku kembang referensi di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Meski begitu, kondisi pasar setelah RDG April disebut memburuk seperti pelemahan rupiah hingga nilai minyak bumi naik.

“Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan suku kembang tanpa sinyal nan sangat kuat berisiko dianggap kurang meyakinkan oleh pasar,” ucap Josua.

Menurutnya, kenaikan suku kembang memang bukan solusi tunggal lantaran tekanan eksternal berasal dari tingginya nilai minyak, perang Timur Tengah, penguatan dolar AS, arus keluar modal, hingga kekhawatiran fiskal. Menurutnya, kenaikan 25 pedoman poin tidak otomatis membikin rupiah langsung menguat tajam, tapi langkah itu dinilai krusial untuk menunjukkan BI serius menjaga ekspektasi inflasi dan stabilitas pasar keuangan.

“Jika BI meningkatkan suku bunga, pesannya adalah menjaga kredibilitas rupiah terlebih dahulu. Jika BI tetap menahan suku bunga, BI kudu menyampaikan pesan nan sangat tegas bahwa kenaikan suku kembang tetap terbuka jika rupiah terus melemah, sembari memperkuat operasi pasar valas, SRBI, dan stabilisasi SBN,” jelas Josua.

Di sisi lain, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyatakan dengan persediaan devisa nan mencapai USD 146,1 miliar per April, BI semestinya cukup berani melakukan intervensi di pasar kurs asing lantaran potensi outflow tetap terbatas dan dapat diukur. Karena itu, dia berpandangan BI tidak perlu meningkatkan suku kembang acuan.

“Seharusnya BI rate naik itu tidak perlu. Karena BI rate naik, praktis suku kembang nan lainnya pun juga ikut naik. Itu semakin membebani real sector nan sekarang banyak nan terpukul akibat posisi valas dolar nan nilainya mahal,” jelas Myrdal kepada kumparan.

Ia menilai banyak pelaku upaya saat ini sudah tertekan akibat mahalnya dolar AS dan meningkatnya biaya ekspansi bisnis. “Jadi, jangan sampai BI rate naik menurut saya,” sebut Myrdal.

Selain itu, dia memperkirakan potensi outflow harian di pasar finansial berkisar USD 2 miliar hingga USD 3 miliar dan jumlah tersebut dinilai tetap dapat diantisipasi oleh BI.

“Kalaupun ada nan membikin kenapa sekarang kelihatannya pressure-nya besar ya, bisa jadi lantaran dividen,” kata Myrdal.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan