Jakarta -
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap penyebab di kembali tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, tekanan di pasar finansial banyak dipicu oleh persepsi negatif terhadap kondisi fiskal pemerintah.
Purbaya mengaku sempat bingung kenapa IHSG terus berada di area merah. Menurutnya, ada rumor di pasar nan menilai penyelenggaraan fiskal pemerintah kurang baik setelah memandang info defisit APBN pada awal tahun.
Defisit APBN pada Maret tercatat mencapai 0,9%, memunculkan kekhawatiran bahwa defisit anggaran sepanjang tahun ini bisa melampaui pemisah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya juga agak bingung sebenarnya apa nan terjadi. Jadi kelihatannya kesan bahwa fiskal kurang baik pelaksanaannya. Apalagi jika kita lihat info bulan Maret seolah-olah obligasinya (defisit) besar 0,9% mereka kali 4 berfaedah 3,6% artinya sudah lepas dari 3% batas kan, itu nan digembar-gemborkan," kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Dilansir dari RTI, IHSG pada penutupan hari ini melemah 245,01 poin alias 4,20%. IHSG sudah turun 19,58% dalam sebulan terakhir dan ambruk hingga 35,30% sepanjang tahun 2026.
Purbaya menambahkan, kondisi defisit dikaitkan dengan beragam program pemerintah nan dianggap berpotensi mengganggu stabilitas fiskal. Ia menyinggung Badan Gizi Nasional (BGN) nan menggarap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Jadi utamanya itu, terus ditarik ke BGN dan lain-lain, mencari lemahnya terus kan sehingga kira-kira mereka bilang fiskalnya jadi berantakan. Itu nan fit in ke pelemahan nilai tukar dan saham," tuturnya.
Menurut Bendahara Negara, persepsi tersebut berkembang menjadi kekhawatiran bahwa lembaga pemeringkat bakal menurunkan ranking angsuran Indonesia. Namun, dia mengaku mendapatkan pandangan berbeda saat berbincang dengan Standard & Poor's (S&P).
"Dari situ orang-orang bilang berfaedah ekonominya morat-marit nih penanammodal bakal keluar lantaran lembaga pemeringkat bakal mendowngrade kita lantaran penyelenggaraan fiskalnya berantakan. Tapi waktu saya tanya ke lembaga pemeringkat internasional S&P, oh sudah bagus, sudah ini sudah bagus," jelas Purbaya.
Purbaya mengatakan, S&P justru memandang pelemahan rupiah sebagai salah satu sumber nan memunculkan ketidakpastian bagi pelaku pasar. Pelemahan rupiah dianggap sebagai parameter kondisi fiskal terganggu
"Cuma gini pak, ada uncertainty di market ialah rupiahnya melemah sehingga mungkin fiskalnya terganggu. Jadi bolak-bolak ini," jelas Purbaya.
Meski demikian, dia menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto secara konsisten mengarahkan agar defisit APBN tetap berada di bawah pemisah 3% PDB.
"Jadi ada miskonsepsi dari market alias analis nan menganggap kita menjalankan fiskal dengan jelek alias pak Prabowo menjalankan kebijakan fiskal tidak hati-hati. Padahal pak Prabowo clear banget. Defisit kita dia atur di bawah 3%," tegas Purbaya.
"Tahun depan dia maunya 1,8% apalagi kita rayu-rayu sedikit 'jangan lah pak kita tetap perlu dorongan ke ekonomi', ya lebih tinggi dari itu boleh sedikit. Jadi komitmen presiden untuk menjaga fiskal di bawah 3% banget kuat sekali. Jadi kita tidak menjalankan kebijakan fiskal nan tidak hati-hati," sambung dia.
Oleh lantaran itu, Purbaya menyebut ada sentimen di pasar nan kudu segera diperbaiki. Ia lagi-lagi menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia dalam kondisi baik dan bakal terus memperbaiki kekurangan nan ada.
"Ada sentimen negatif di pasar nan kudu kita perbaiki. Tapi nan bisa saya jelaskan sekarang adalah fondasi ekonomi baik, kebijakan fiskal betul-betul terjaga dan jika ada apa-apa kita bisa adjust kita perbaiki. Kita betul-betul elastis untuk memastikan defisitnya di bawah 3% tanpa mengganggu perekonomian secara berlebihan. Kelemahan kita kurang cukup baik menjelaskan ke publik mungkin," tutup Purbaya menjelaskan.
(ily/fdl)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·