Pupuk Kaltim Rehabilitasi 2,23 Ha Terumbu Karang di Tebok Batang

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Terumbu karang di Tebok Batang, Bontang. Foto: Pupuk Kaltim.

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) telah merehabilitasi area terumbu karang seluas 2,23 hektare (ha) di perairan Tebok Batang, Kota Bontang, hingga 2025. Program nan telah melangkah selama 15 tahun tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut melalui pendekatan berbasis sains, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Program konservasi itu juga mendapat pengakuan internasional setelah Pupuk Kaltim menjadi delegasi perwakilan Indonesia pada 16th International Coral Reef Symposium (ICRS) di Auckland, Selandia Baru, pada 19–24 Juli 2026. Dalam forum nan dihadiri lebih dari 2.100 delegasi dari 90 negara tersebut, Pupuk Kaltim menjadi satu-satunya perusahaan industri nasional nan mewakili Indonesia.

Perwakilan delegasi Pupuk Kaltim, Astri Agustina, mengatakan perusahaan mempresentasikan dua karya ilmiah nan mengangkat pengalaman restorasi terumbu karang di Tebok Batang. Kedua karya tersebut berjudul Quindecennial Consecutively Collaborative Coral Restoration dan Integration Coral Restoration through Long-Term Stakeholder Engagement and its Independence Governance.

"Dua karya tersebut mengangkat pendekatan komprehensif Pupuk Kaltim dalam mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, tata kelola, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat dalam restorasi terumbu karang," ujar Astri.

Menurut Astri, program rehabilitasi dimulai sejak 2011 setelah lebih dari 50 persen terumbu karang di perairan Bontang mengalami kerusakan akibat praktik penangkapan ikan nan tidak ramah lingkungan. Sebagai langkah pemulihan, Pupuk Kaltim membangun modul terumbu buatan dan melakukan transplantasi karang melalui pemberdayaan masyarakat pesisir, disertai pemantauan ekologi dan sosial secara berkelanjutan.

Pabrik Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur. Foto: Shutterstock

Ia menjelaskan rehabilitasi dilakukan menggunakan tiga jenis modul terumbu buatan, ialah Pyramid, Cube, dan Dome, nan dirancang untuk mendukung penempelan karang sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati selama penyelenggaraan program.

Hingga 2025, area rehabilitasi nan dikelola Pupuk Kaltim di Tebok Batang telah mencapai 2,23 ha dari total 10 haarea nan diizinkan melalui Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL). Seiring program tersebut, populasi ikan karang meningkat menjadi 57 familia, sementara populasi karang tercatat mencapai 69 genus.

Saat ini, Tebok Batang berkembang menjadi salah satu model konservasi berbasis kerjasama nan tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem laut, tetapi juga pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pelibatan golongan nelayan dalam pembangunan terumbu buatan, penenggelaman modul, hingga pemantauan berkala.

"Pengalaman Pupuk Kaltim menunjukkan keberhasilan restorasi tidak hanya ditentukan teknologi nan digunakan, tapi juga kesinambungan pemantauan serta penyesuaian pengelolaan berasas hasil pertimbangan lapangan," kata Astri.

Selama lebih dari satu dekade, Pupuk Kaltim telah memasang ribuan modul terumbu buatan sebagai bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan. Program tersebut difokuskan pada peningkatan keanekaragaman hayati, rehabilitasi kediaman laut, serta mendukung mitigasi perubahan suasana dan dekarbonisasi.

"Melalui ICRS 2026, kami mau menunjukkan sektor industri dapat mengambil peran strategis mendukung konservasi laut secara berkelanjutan. Apa nan kami lakukan di Tebok Batang dapat menjadi referensi maupun direplikasi oleh beragam pihak dalam upaya nan sama," ujar Astri.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya, mengatakan keikutsertaan perusahaan dalam ICRS 2026 menjadi komitmen perseroan menjalankan prinsip ESG sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 14 (Life Below Water).

"Kami sampaikan apresiasi kepada delegasi Pupuk Kaltim nan telah mewakili Indonesia pada forum ICRS. Ini menunjukkan inisiatif keberlanjutan nan lahir dari operasional perusahaan, bisa memberi kontribusi nyata dan memperoleh pengakuan dari organisasi global," ujar Anggono.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan