
Punya Potensi Besar, Ekosistem Perdagangan Karbon RI Diperkuat (Foto: Freepik)
JAKARTA - Pengembangan ekosistem perdagangan karbon Indonesia didukung. Hal ini melalui kerjasama strategis antara PT ESGIN Global Partners dengan Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo).
Vice President Regional Head Indonesia ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy mengatakan, salah satu tantangan strategis pengembangan pasar karbon Indonesia adalah membangun lebih banyak proyek berbobot nan mempunyai kesiapan teknis, regulasi, pembiayaan, dan pasar.
"Indonesia mempunyai potensi proyek karbon nan sangat besar. Tantangannya adalah gimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi proyek nan mempunyai metodologi nan tepat, MRV nan kuat, integritas nan tinggi, struktur pembiayaan nan jelas, serta akses terhadap pasar," katanya di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, pasar karbon perlu dibangun sebagai sebuah ekosistem nan menghubungkan pemerintah, project owner, daerah, project developer, teknologi, lembaga pengesahan dan verifikasi, investor, perbankan, serta carbon buyer.
"Di kembali setiap unit karbon kudu terdapat proyek dan aktivitas mitigasi nan nyata, info nan dapat diverifikasi, serta akibat lingkungan nan dapat dipertanggungjawabkan. Pada saat nan sama, proyek tersebut kudu bisa menciptakan nilai ekonomi nan dapat dirasakan oleh pemilik proyek, daerah, dan masyarakat," sambungnya.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong terbentuknya pipeline proyek karbon nan bankable dan investable, sehingga modal dapat masuk untuk membiayai lebih banyak aktivitas mitigasi dan pengurangan emisi di Indonesia.
Dorong Industri Menangkap Peluang Ekonomi Karbon
Kolaborasi dengan ESGIN juga diharapkan memperluas peran Aspebindo dalam membantu pelaku upaya memahami dan menangkap kesempatan dari perkembangan Nilai Ekonomi Karbon dan perdagangan karbon Indonesia.
Aspebindo mempunyai jaringan lebih dari 100 perusahaan nan mencakup perusahaan perdagangan, pertambangan batubara, minyak dan gas, serta daya terbarukan.
Basis industri tersebut mempunyai beragam kesempatan dekarbonisasi, antara lain melalui efisiensi energi, daya terbarukan, pengelolaan methane, bioenergi, biomassa, pengelolaan limbah, rehabilitasi lingkungan, serta aktivitas pengurangan emisi lainnya.
Kolaborasi ini nan ditandai denga dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) diharapkan dapat membantu mengidentifikasi aktivitas tersebut dan, andaikan memenuhi persyaratan metodologi dan regulasi, mengembangkannya menjadi proyek karbon nan mempunyai nilai ekonomi.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari
Follow
Berita Terkait
Telusuri buletin finance lainnya
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·