Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, anggaran pendapatan dan shopping negara (APBN) dalam posisi nan kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi akibat perang di Timur Tengah nan membikin nilai komoditas daya melonjak.
Ia mengatakan, saat nilai minyak mentah bergolak tinggi, dan nilainya di atas dugaan makro APBN 2026, ialah di atas US$100 per barel, pemerintah tetap bisa menahan kenaikan harga, khususnya BBM bersubsidi dalam negeri tanpa kudu menguras persediaan APBN dalam corak Saldo Anggaran Lebih (SAL).
"Belum ada nan dipakai sampai sekarang," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, dikutip Rabu (22/4/2026).
Purbaya menegaskan, SAL pemerintah nan sekarang nominalnya mencapai Rp 423 triliun belum terpakai sedikitpun untuk menghadapi tekanan shopping subsidi akibat kenaikan nilai komoditas energi. Ia memastikan, SAL menjadi sumber duit terakhir bagi pemerintah jika anggaran shopping sudah tak bisa menahan sasaran defisit di bawah 3% PDB.
"Rp 423 Triliun itu betul-betul last line of defense. nan kita kendalikan adalah sekarang shopping nan lain dan dengan penghematan sudah cukup," paparnya.
Dengan keahlian APBN nan tetap bisa melakukan efisiensi dan realokasi belanja-belanja ke sektor nan prioritas, Purbaya mengaku tetap tenang untuk mengelola defisit APBN 2026 sesuai sasaran di bawah 3% PDB, sebagaimana nan telah ditetapkan dalam UU Keuangan Negara.
"Jadi saya tenang-tenang aja. Makanya jika di luar ribut saya bingung," tegas Purbaya.
Purbaya apalagi mengaku juga sempat menolak tawaran pinjaman dari IMF dan World Bank di sela-sela agenda Spring Meeting IMF-World Bank di Washington DC, Amerika Serikat. Tawaran senilai US$ 25 miliar-US$ 30 miliar itu dia tolak lantaran APBN RI tetap kuat kapabilitas belanjanya.
"Disuruh utang ke dia. IMF juga sama. Tapi saya bilang ya itu terima kasih atas tawarannya. Tapi sekarang kondisi APBN kita tetap bagus dan saya belum butuh itu," paparnya.
(arj/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·