Gumoh pada bayi adalah perihal normal.(Dok. Magnific)
GUMOH alias regurgitasi merupakan kondisi nan normal terjadi pada sebagian besar bayi. Salah satu penyebab utamanya adalah fungsi klep lambung dan kerongkongan nan belum berkembang sempurna.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, Sri Kesuma Astuti, menjelaskan bahwa di antara lambung dan kerongkongan terdapat klep pembatas nan disebut sfingter esofagus bagian bawah. Klep ini berfaedah mencegah makanan alias cairan nan sudah masuk ke lambung kembali naik ke kerongkongan.
Namun, pada bayi, kegunaan klep tersebut belum bekerja secara optimal. Kondisi ini membikin isi lambung lebih mudah naik kembali ke esofagus.
Selain itu, bayi mempunyai kapabilitas lambung nan tetap terbatas. Posisi bayi nan lebih sering berebahan mendatar juga mempermudah aliran kembali isi lambung ke kerongkongan.
“Ketika cairan masuk ke esofagus, bayi mempunyai kapabilitas kerongkongan nan tetap terbatas. Karena itu, saat terjadi aliran kembali dari lambung ke esofagus, cairan tersebut mudah keluar ke mulut,” jelas Sri.
Menurut Sri, gumoh merupakan bagian dari perjalanan alamiah bayi dan paling sering terjadi pada usia 2-5 bulan. Sekitar 40% bayi dapat mengalaminya secara normal.
“Ini adalah kondisi normal nan mencapai puncaknya pada usia bayi sekitar 2-5 bulan. Seiring bertambahnya usia, kejadian gumoh bakal semakin berkurang. Pada usia 12 bulan, jumlah bayi nan tetap mengalami gumoh tinggal di bawah 5%,” ucapnya.
Sri menambahkan, pada usia 19 bulan, semestinya bayi tidak lagi mengalami gumoh fisiologis alias gumoh nan tergolong normal.
Gumoh pada bayi biasanya mengandung makanan alias susu. Namun, cairan tersebut juga dapat mengandung masam lambung, empedu, dan enzim pencernaan nan berpotensi mengiritasi lapisan dalam kerongkongan.
Meski demikian, kerusakan kerongkongan akibat gumoh pada bayi jarang terjadi. Tubuh mempunyai sistem perlindungan untuk mencegah akibat jelek dari aliran kembali isi lambung.
“Ketika sistem perlindungan ini tidak berfaedah optimal, barulah dapat terjadi kerusakan pada tembok kerongkongan dan berkembang menjadi penyakit GERD,” pungkasnya. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·