Di tengah kemelut ketidakpastian ekonomi—rupiah melemah, pengangguran melebar luas—atau keresahan politik, beberapa anak muda mengisi algoritma media sosialnya dengan debat teori One Piece alias berbincang mengenai idol K-Pop favoritnya. Lantas, kenapa anak-anak muda ini jauh lebih doyan tenggelam dalam bumi fiksi daripada membahas urgensi masa depan? Ya, Selamat datang di fandom, tempat di mana fans pop culture alias karya dan figur tertentu bertemu, melebur jadi satu.
Fandom adalah ruang berkumpulnya fans lintas bumi dari satu kegemaran atas produk budaya nan sama, seperti musisi, figure, series, klub, hingga grup K-Pop. Di dalamnya, mereka membahas segala perihal nan berangkaian dengan produk budaya masing-masing sampai larut malam.
Aktivitas nan umumnya dilakukan di kalangan fandom adalah berdebat teori, seperti One Piece nan tak kunjung tamat dan menyimpan pelbagai misteri. Selain itu, ada nan berbincang santuy sekaligus sarkas terhadap series kesukaan mereka sendiri, seperti fandom Star Wars nan tetap kecewa dengan sekuel trilogi di bawah Disney. Namun, nan menjadi favorit saya pribadi adalah ship-war nan berupa perdebatan panjang antara satu pasangan pilihan fans dengan pasangan nan lain.
Kehidupan di fandom penuh dengan aktivitas hangat dan dingin di saat-saat tertentu. Beberapa fandom juga dapat menjadi kawat berduri nan melukai anggotanya sendiri lantaran iklimnya nan toxic. Namun, terlepas dari beragam masalah kontemporer, fandom juga dapat menjadi tempat singgah nan nyaman seumpama tongkrongan. Batasannya tidak lagi rekan kuliah alias kawan depan kompleks, tapi orang asing dari negeri nan jauh dan disatukan atas kesamaan sebagai penggemar. Bahkan, fandom dapat menjadi pengganti paling terjangkau bagi anak muda, khususnya Gen-Z, nan kerap kehilangan rumah emosionalnya.
Ini Bukan Sekadar Hiburan, Juga Mencakup Fungsi Sosial
Fandom sering diremehkan oleh generasi nan lebih tua sebagai permainan anak-anak. Padahal, fandom juga dapat menciptakan ruang hubungan digital nan mencakup beberapa kegunaan alias fungsi. Fungsi nan paling terlihat jelas adalah terbentuknya organisasi digital nan tak kalah besar dari organisasi berbasis offline. Komunitas digital ini nan membantu seorang perseorangan untuk membentuk identitas pribadi. Di tengah bumi nyata nan semakin individualistis, fandom dapat memfasilitasi kebersamaan, meskipun terbentuk secara digital.
Melalui fandom, fans dapat bebas mengemukakan argumennya sendiri dari perihal nan mereka cintai bersama. Meskipun perdebatan kerap membawa ketegangan, para personil fandom patutnya juga memberikan patokan demi mencegah potensi bentrok nan luas. Dengan begitu, fandom dapat berkedudukan sebagai ruang sosial nan melindungi anggotanya dalam kebebasan interaksi. Di dalam fandom, personil dapat berbagi pengalaman, membagikan karya fanart, menulis fanfiction nan dapat dinikmati oleh setiap anggota. Aktivitas ini bukanlah suatu corak pasif, tapi perwujudan aktivitas sosial.
Meskipun begitu, bukan maksud saya menjustifikasi bahwa bumi maya jauh lebih baik dari bumi nyata. Kehidupan digital nan banyak tercermin dari media sosial berpengaruh langsung dalam membentuk emosi pesimis. Hal ini juga nan menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan mental bagi Gen-Z. Hadirnya media sosial membikin kita terus membandingkan hidup sendiri dengan pencapaian orang lain.
Hal ini membikin banyak anak muda hidup dalam emosi tertinggal. Timeline dipenuhi pencapaian, sementara kehidupan sendiri terasa melangkah di tempat. Lantas muncul pertanyaan-pertanyaan pesimistik seperti, “Kapan saya bisa seperti dia?”. Contoh ini adalah salah satu pembentuk style berpikir nan selalu dihantui oleh rasa takut bakal kegagalan. Masyarakat digital menjadi neraka bagi kita.
Dari kasus seperti itu, fandom memberikan kontradiksi. Statusnya sama-sama digital, namun pengaruhnya justru berbanding terbalik. Di tengah media sosial nan semakin individualistis, fandom justru menawarkan rasa kolektivitas. Padahal fandom tertentu juga tumbuh dari media sosial, namun fungsinya sudah beranjak menjadi rumah emosional. Boleh jadi lantaran itu pula banyak Gen-Z merasa lebih nyaman berbincang dengan kawan satu fandom hingga larut malam dibanding membicarakan hidupnya sendiri di bumi nyata. Cara-cara ini menjadi contoh penemuan kembali makna pulang dari fandom.
Rumah Emosional
Seperti nan sudah disebut beberapa kali di atas, bahwa kegunaan sosial fandom juga mencakup rumah emosional. Hal ini terjadi lantaran banyak Gen-Z nan sering merasakan kesenyapan dan kehilangan makna rumah dari tempat-tempat terdekatnya, apalagi dari tempat tinggal mereka sendiri. Boleh jadi seorang anak justru merasa tertekan dengan pulang ke rumahnya lantaran sehari-hari selalu diberikan ekspektasi berlebih dan tekanan tanpa henti dari orangtuanya.
Belum lagi jika orang tua sudah membandingkan si anak dengan tetangga sebelah nan jauh lebih sukses. Maka rumah kehilangan makna sejatinya sebagai tempat berpulang. Faktual, menurut survei Oxfam 2025, 47% Gen-Z sering merasa kesepian. Alasan terbesarnya adalah lantaran kurangnya ruang sosial dan hubungan nyata. Sementara itu, CDC juga menunjukkan bahwa kejadian kesenyapan meningkat drastis beberapa tahun terakhir.
Fandom kemudian datang menjadi rumah emosional baru bagi Gen-Z. Ditambah, generasi ini juga besar dengan budaya pop modern seperti Marvel Studios dan tayangan anime nan kian masif. Gen-Z sudah terbiasa memulai harinya di masa mini dengan budaya tontonan lewat kartun-kartun seperti Spongebob. Mereka juga besar di budaya gaming nan kuat tercermin dari penggunaan Playstation. Grup-grup baru K-Pop juga bermunculan di periode ketika Gen-Z menginjak usia remaja dan memantik minat untuk terus mengikuti pujaan mereka. Di situasi ini, fandom memainkan peran krusial untuk menghimpun fans masing-masing produk budaya untuk membangun organisasi secara digital.
Dengan hadirnya fandom, Gen-Z dapat merasakan kembali ruang hubungan sosial nan jauh lebih ramah, tanpa ada tuntutan dan cukup bersenang-senang dengan obrolan intens. Satu perihal nan menjadi sisi positif dari kejadian fandom adalah globalisasi. Anggota fandom terdiri dari fans lintas bangsa. Bagi sebagian personil fandom, hubungan lintas bangsa juga membikin mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Globalisasi ini menjadi cermin bumi postmodern, di mana hubungan tidak terbatas ruang. Meski begitu, fandom tidak selamanya menjadi surga.
Toxicity dalam Fandom
Kini kita tiba dari sisi negatif fandom, ialah lingkungan toxic. Tidak selamanya fandom menjadi tempat berpulang nan aman. Ibarat jika kita memasuki kompleks ketika hendak pulang ke rumah, namun banyak preman dan ancaman pemalak di sepanjang perjalanan. Namun, perihal ini tidak selalu terjadi di setiap fandom. Masih banyak fandom nan memberikan nuansa positif. Tapi tidak dapat dipungkiri, toxicity dapat datang di setiap perspektif fandom.
Perbedaan pendapat umum terjadi di setiap komunitas. Namun, perihal tersebut dapat menjadi obrolan tidak sehat andaikan antar personil mulai berbicara kasar dan membawa unsur personal. Komunitas nan semestinya membawa kerakyatan dalam interaksi, dirusak hanya lantaran perbedaan pendapat. Kefanatikan terhadap satu karakter tertentu juga memicu keretakan internal fandom dan menumbuhkan bibit pribadi nan semi-chauvinis.
Toxicity dalam fandom patut disayangkan lantaran merusak organisasi dan produk budaya nan mereka cintai di mata publik. Seperti contoh series My Hero Academia nan dibenci lantaran fandomnya tidak sehat. Ketika berada dalam posisi ini, maka personil nan bijak adalah nan memilih tak bersuara dibanding berdebat panjang lebar tapi penuh makian. Lebih baik jika dia menghentikan dan mengingatkan agar organisasi tidak tercemari oleh perilaku buruk.
Tempat untuk Menjadi Diri Sendiri
Terlepas dari problem toxicity, fandom tetap dapat disebut rumah emosional lantaran posisinya nan memberikan kesempatan untuk menjadi diri kita sendiri di tengah kepalsuan bumi nyata. Jika di instansi kita kudu terus dituntut oleh bos tanpa mengeluh, alias ketika di rumah selalu dihakimi oleh orang tua, maka di dalam fandom kita bisa menjadi diri kita sendiri. Ini adalah salah satu pengganti untuk mencari sisi kemanusiaan nan kerap terlupakan di bumi nyata.
Pada titik ini, fandom jadi terasa manusiawi dibanding bumi nyata. Tidak perlu dituntut dengan ekspektasi nan berat alias kudu produktif di setiap waktu. Fandom hanya memerlukan personil nan mempunyai kesamaan minat terhadap satu produk budaya. Hal ini nan membikin fandom jadi terasa lebih hidup dibanding telantar secara pikiran di bumi nyata. Bagi generasi muda seperti Gen-Z, hidup terlalu capek untuk percaya atas masa depan, sehingga mereka sering tenggelam pada bumi fiksi nan memberikan makna persahabatan, harapan, dan cinta.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·