PT Dirgantara Indonesia (Persero) alias PTDI tengah mengeksplorasi pengembangan ambulans terbang. VP Business Development & Marketing PTDI Heber M. F. Panjaitan mengatakan salah satu pesawat nan dinilai elastis untuk kebutuhan tersebut adalah pesawat NC212.
PTDI memandang sejumlah platform pesawat tersebut mempunyai elastisitas untuk dikembangkan sesuai kebutuhan, termasuk untuk proses pemindahan pasien.
"Kita juga sedang explore untuk ambulans terbang. Jadi kita memandang platform NC212 ini cukup elastis untuk digunakan sebagai ambulans terbang, lantaran loading-unloading untuk orang sakit itu lebih mudah," ujar Heber saat ditemui detikcom dalam TNI Fair, di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Sabtu (19/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pengembangan ambulans terbang tersebut terbuka untuk dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lain, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Ini bisa kita kerja samakan dengan BRIN alias pihak-pihak lain. Jadi, platformnya bisa 212, bisa N219, bisa juga RM200," terangnya.
Rencana Ambulans Udara
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pemerintah bakal membikin ambulans udara menggunakan helikopter dan pesawat mini untuk membantu masyarakat di wilayah nan susah dijangkau.
Prabowo menyampaikan perihal tersebut saat memberikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, 14 Agustus 2026 lalu.
"Negara kudu datang sedekat mungkin dengan rakyat, untuk itu kita bakal buat ambulans udara dengan heli dan pesawat mini nan bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, pasir, sungai, agar tidak ada rakyat kita nan tidak bisa tidak dievakuasi ketika dia sakit," kata Prabowo.
Prabowo mengatakan tetap ada masyarakat nan kudu menempuh perjalanan hingga 7-9 jam untuk mendapatkan jasa kesehatan. Kondisi tersebut, menurutnya, juga menyebabkan ibu nan hendak melahirkan kesulitan mendapatkan pertolongan medis.
"Untuk itu kita kudu cari terobosan, salah satu jalan ada ambulans udara, apalagi kelak juga tim master terbang," ujarnya.
Gagasan tersebut kemudian direspons BRIN dengan mematangkan ekosistem pesawat N219 dan jenis amfibinya, N219A, untuk mendukung visi ambulans terbang dan logistik medis.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan N219 dikembangkan berbareng PTDI dan mempunyai keahlian Short Take-Off and Landing (STOL), sehingga dapat beraksi dari landasan nan relatif pendek. Sementara N219A dikembangkan sebagai jenis amfibi nan dapat beraksi di wilayah perairan.
Dengan karakter tersebut, N219 dan N219A diproyeksikan dapat mendukung pemindahan medis, khususnya bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan wilayah nan susah dijangkau melalui jalur darat.
(ada/ara)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·