Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengamankan komitmen pendanaan dari bank-bank milik negara (Himbara) senilai Rp 3,56 triliun melalui senior term loan.
Dana tersebut dialokasikan untuk mempercepat pengerjaan sejumlah proyek strategis, khususnya pembangunan prasarana pertambangan dan penguatan sistem logistik perusahaan.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA Una Lindasari menjelaskan bahwa penguatan prasarana merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis.
Ia memastikan pendanaan tersebut bakal mendukung integrasi sistem logistik batu bara agar bisa memenuhi kebutuhan pengguna secara optimal.
"PTBA juga telah memperoleh komitmen pendanaan melalui term sheet dengan bank-bank Himbara untuk senior term loan facility sebesar Rp 3,56 triliun," ungkapnya dalam Public Expose PTBA secara daring, Senin (7/9/2026).
Dia menjelaskan, konsentrasi utama penggunaan biaya ini adalah untuk menuntaskan proyek Tanjung Enim-Kramasan nan saat ini progres fisiknya sudah mencapai 93%. Selain itu, PTBA membangun akomodasi coal handling facility (CHF) serta train loading station alias TLS 67 guna memperkuat kapabilitas pikulan dan pemuatan batu bara di jalur pengedaran tersebut.
"Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim-Kramasan serta akomodasi CHF dan TLS 67 agar sistem logistik batu bara semakin terintegrasi dan bisa mendukung kebutuhan pengguna secara optimal," paparnya.
Langkah penguatan rantai pasok tersebut menjadi landasan bagi PTBA untuk menjaga kelancaran operasional di tengah sasaran produksi nan ditetapkan dalam RKAB sebesar 53 juta ton untuk tahun ini. Perusahaan juga tengah menyiapkan diri menghadapi perubahan lanskap daya melalui pengembangan portofolio upaya nan lebih beragam, termasuk sektor hilirisasi dan daya terbarukan.
"Penguatan prasarana merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis," tandasnya.
Kinerja PTBA Semester I-2026
Pada Semester I-2026, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, meningkat 8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara untung bersih Perseroan mencapai Rp 2,65 triliun, tumbuh 218% yoy. Kinerja tersebut didukung oleh pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan nilai jual rata-rata batu bara.
Secara operasional, PTBA mencatat produksi batubara sebesar 19,45 juta ton dan penjualan sebesar 21,10 juta ton.
Penjualan ekspor mencapai 10,33 juta ton, meningkat sekitar 5% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya dengan negara tujuan ekspor terbesar dari Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Sementara itu, penjualan domestik tercatat 10,77 juta ton alias sekitar 51% dari total penjualan.
Penguatan nilai batubara turut memberikan kontribusi positif terhadap keahlian Perseroan. Pada Semester I 2026, Newcastle Index meningkat 25% yoy dan ICI-3 naik 15% yoy, nan mendorong kenaikan nilai jual rata-rata (average selling price/ASP) PTBA sebesar 10% yoy. Kondisi tersebut mendukung peningkatan pendapatan dan profitabilitas Perseroan di tengah dinamika volume produksi dan penjualan.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·