PT Timah Jajaki Impor Bijih Timah dari Myanmar-Amerika Latin

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Timah, Harry Budi Sidarta, saat berbincang dengan media di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

PT Timah (Persero) Tbk (TINS) menjajaki kerja sama pengadaan bijih timah dari luar negeri, seperti Myanmar dan wilayah Amerika Latin, untuk menjaga sumber daya dan persediaan timah nan mulai menipis di dalam negeri.

Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Timah, Harry Budi Sidarta, mengatakan perusahaan terus melakukan eksplorasi nan lebih masif, khususnya terhadap pertambangan aluvial dalam maupun primer nan berada di daratan.

"Untuk luar negeri kita memang lagi penjajakan [impor], salah satunya itu dari Myanmar lantaran Myanmar dia ekspor terbesar bijih tapi dia belum ada smelter. Kita lagi penjajakan dengan Myanmar melalui government, melalui kedutaan besar kita," ungkapnya saat berbincang berbareng media, dikutip Jumat (12/6).

Selain itu, Harry menyebut perusahaan juga mendapat tawaran pasokan bijih dari Amerika Latin. Namun, untuk bisa mengimpor, perlu ada penyesuaian patokan di ranah Kementerian Perdagangan mengenai larangan impor bijih timah.

Jika tidak memungkinkan, PT Timah mungkin bakal bekerja sama dengan smelter.

"Beberapa nan menawarkan kemarin dari Amerika Latin. Ini memang bukan hari ini bisa langsung ya, lantaran beberapa patokan itu tetap kudu disesuaikan, artinya jika emang kita kelak boleh mengimpor bijih kudu ada revisi terhadap patokan nan ada di perdagangan," jelas Harry.

Ilustrasi PT Timah. Foto: Dok. PT Timah Tbk

Harry menjelaskan bahwa PT Timah sempat mempunyai konsesi pertambangan di luar negeri, seperti Myanmar dan Nigeria.

Namun, operasional seringkali menemui tantangan dan risiko, sehingga kerja sama pengadaan namalain impor dengan penambang lokal dinilai lebih aman.

"Kita dulu pernah punya pengalaman mau menambang di Myanmar, di Nigeria. Di sana secara norma dan lain-lain itu terlalu banyak risikonya.

Mending lebih baik kita menggandeng gitu ya, penambang lokal sana. Kemudian kita bawa alias kita di-smelternya," tuturnya.

Demi keberlangsungan bisnis, penjajakan impor bijih timah ini diperlukan. Harry menilai, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan persediaan timah di Indonesia nan bisa lenyap dalam waktu dekat.

Kenaikan Produksi

Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Timah, Harry Budi Sidarta, saat berbincang dengan media di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Di sisi lain, PT Timah berencana meningkatkan produksi bijih timah dapat menembus rekor tertinggi pada tahun ini. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) 2026, sasaran produksi perusahaan sebesar 30.000 ton, di tengah sederet tantangan nan tidak bisa dikendalikan.

"Proyeksi kita diminta sampai 80.000 [ton]. Nanti tergantung persediaan dan sumber daya kita, tapi lantaran pemegang saham melihatnya Indonesia ini pernah memproduksi 80.000 [ton], kita diminta untuk kembali ke rekor kita," ungkap Harry.

Rencana kenaikan produksi ini di saat momentum nilai komoditas nan sedang baik dan potensi kenaikan permintaan nan besar, terutama kebutuhan kendaraan listrik, panel surya, dan info center. Harga bijih timah saat ini berada di kisaran USD 50.000 per ton.

Kendati begitu, Harry menjelaskan bahwa momentum itu disertai tantangan dari para produsen terbesar bijih timah global, misalnya larangan ekspor timah dari China hingga kenaikan pajak pertambangan di Myanmar, termasuk Indonesia nan juga membatasi ekspor timah.

"Sekarang kita menikmati harganya nan tinggi, kemungkinan bakal relatif lebih tinggi ya. Sekarang tugasnya jika dilihat dari prospek di PT Timah adalah gimana kita menjaga kontinuitas untuk supply bijih kita," tegas Harry.

Pasalnya, PT Timah kebagian titipan 6 smelter hasil sitaan Kejaksaan Agung dari kasus korupsi tata niaga timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan, nan hingga saat ini belum dapat dioperasikan.

Harry menyebut alasannya lantaran status kepemilikan nan belum jelas lantaran tetap dikuasai negara. Sambil menunggu proses peralihan aset dari pemerintah, perusahaan tengah membahas shopping modal (capex) serta kebutuhan pasokan bijih timah.

"Setiap smelter itu rata-rata mungkin sekitar 5.000 sampai 10.000 ton kapasitasnya per tahun untuk pengolahan. Jadi jika ada 6 (smelter) kurang lebih 50.000 sampai 60.000 ton per tahun," katanya.

Sejauh ini, PT Timah tetap mencari sumber bijih tambahan untuk smelter sitaan tersebut. Sebab, perusahaan sendiri juga sudah mempunyai akomodasi pengolahan dengan kapabilitas 40.000 ton.

"Jumlah bijih ini memang terkendala. Kita untuk kita bakal menambang itu, ada (tantangan) uncontrollable dari PT Timah nan membikin kita belum bisa menambang 100 persen dari wilayah IUP kita. Kadang ada nan beririsan dengan wilayah hutan, wilayah perikanan," jelas Harry.

Merambah Teknologi Baru

PT Timah juga membidik perkembangan teknologi pengolahan timah nan lebih menguntungkan dan tidak mengandalkan persediaan dan sumber daya nan menipis, salah satunya teknologi daur ulang (recycle) timah nan sudah marak dilakukan di Eropa. Harry mengeklaim sudah banyak negara-negara maju nan menanyakan produk daur ulang timah dari Indonesia.

"Mereka tanya, Indonesia ini konsumen elektronik terbesar, kenapa belum punya industri timah recycle? Kalau ada marginnya itu mungkin sekitar 20-30 persen. Jadi untuk orang Jepang bisa menghargai itu lebih mahal lantaran dia lebih dapat poin dari ramah lingkungan ya. Tapi kita belum menyediakan, kemarin kita sudah obrolan dengan BOD, kayaknya menarik," ungkap Harry.

Sementara itu, PT Timah juga sudah meneken kerangka kerja sama dengan PT Pertambangan Mineral Nasional (Perminas) dalam pengolahan slag timah dan rare earth elements alias logam tanah jarang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Harry menuturkan, mandat hilirisasi timah dipegang oleh Perminas. Sementara itu, peran PT Timah tetap krusial dari sisi hulu, ialah pertambangan hingga pemurnian bijih timah serta mineral ikutannya untuk dipasok ke Perminas.

"Perminas punya mandat untuk hilirisasi, tapi kan namanya IUP, kemudian mineralnya ada di PT Timah. Kerangkanya kelak adalah Perminas bakal mencari mitra teknologinya, semua mineral tambang kita nan tanah jarang bakal dimurnikan di Perminas," ujarnya.

Ke depannya, lanjut dia, Perminas berbareng mitra teknologinya bakal membangun akomodasi hilirisasi lanjutan hingga level 4, misalnya menghasilkan produk semikonduktor alias suku persediaan pesawat. Fasilitas tersebut diharapkan dapat dibangun di wilayah IUP PT Timah, khususnya di Bangka.

"Kita sekarang konsentrasi di penambangannya, penyedia tanah jarang, dan silahkan kelak dari tim Perminas dan penyedia teknologi membangun akomodasi pemurniannya juga di sebelah akomodasi kita di Bangka. Istilahnya kita pembayaran pemurniannya sesuai dengan volume, jadi kita tidak keluar capex," tandas Harry.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan