Psikolog Ungkap Pola Asuh yang Bikin Anak Rentan Jadi Korban Child Grooming

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Psikolog Ungkap Pola Asuh nan Bikin Anak Rentan Child Grooming. Foto: Shutterstock

Kasus child grooming atau manipulasi nan dilakukan pelaku untuk mendapatkan kepercayaan anak sebelum melakukan pemanfaatan menjadi salah satu ancaman nan perlu diwaspadai orang tua. Meski dapat terjadi pada siapa saja, sejumlah aspek dalam pola asuh dan hubungan family dapat memengaruhi tingkat kerentanan anak terhadap pelaku.

Psikolog klinis, Gita Aulia Nurani, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa pola asuh nan terlalu ekstrem, baik terlalu membebaskan maupun terlalu mengekang, dapat menciptakan celah nan dimanfaatkan pelaku grooming.

Ilustrasi grooming. Foto: Shutterstock

"Anak nan tidak terbiasa berbincang dengan orang tua condong mencari rasa kondusif alias perhatian dari orang lain, termasuk pelaku grooming,” ucap Gita kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pola asuh permisif nan minim pengawasan membikin anak lebih bebas berinteraksi tanpa pemahaman nan cukup mengenai risiko. Sebaliknya, pola asuh otoriter juga dapat membikin anak enggan terbuka kepada orang tua ketika menghadapi situasi nan membuatnya tidak nyaman.

Selain itu, anak nan sejak mini tidak diajari batas tubuh, privasi, dan kewenangan untuk menolak sentuhan alias perlakuan nan tidak diinginkan juga lebih mudah menjadi sasaran manipulasi.

Kurangnya Kedekatan Emosional Bisa Jadi Celah bagi Pelaku

Ilustrasi balas chat. Foto: leungchopan/Shutterstock

Gita juga menjelaskan bahwa kebutuhan emosional anak sering kali menjadi pintu masuk nan dimanfaatkan pelaku grooming. Anak nan merasa kurang mendapatkan perhatian, condong lebih mudah tertarik pada sosok nan memberikan perhatian secara intens.

“Anak nan merasa kurang didengar, kurang diperhatikan, alias kurang mendapatkan afeksi emosional sering kali lebih mudah dekat dengan orang nan memberikan perhatian intens, pujian, hadiah, alias rasa dipahami,” tegasnya.

Dalam perihal ini, kehadiran figur ayah maupun ibu sama-sama mempunyai peran krusial dalam membangun rasa kondusif dan nilai diri anak. Tak hanya itu, beberapa kebiasaan orang tua tanpa disadari juga dapat memudahkan pelaku mendekati anak. Misalnya, kurang mengawasi aktivitas digital anak, membiarkan anak berinteraksi bebas tanpa edukasi keamanan, alias sering menyepelekan cerita nan disampaikan anak.

Ilustrasi orang tua dan anak main gadget. Foto: NaMong Productions92/Shutterstock

Bukan hanya itu, orang tua pun perlu berhati-hati dalam mengajarkan kepatuhan kepada anak. Anak memang perlu menghormati orang dewasa, tetapi juga kudu memahami bahwa mereka mempunyai kewenangan untuk berbicara "tidak" ketika menghadapi situasi nan membikin tidak nyaman.

Bahkan kebiasaan membagikan terlalu banyak info mengenai anak di media sosial juga berpotensi meningkatkan risiko. Informasi nan diunggah secara terbuka dapat membantu pelaku mempelajari kebiasaan, lokasi, hingga kondisi psikologis anak.

Kenali Tanda-Tanda Awal Grooming pada Anak

Menurut Gita, orang tua perlu mewaspadai perubahan perilaku nan muncul secara tiba-tiba pada anak. Beberapa tanda awal nan dapat mengindikasikan adanya manipulasi alias grooming antara lain:

1. Anak menjadi lebih tertutup dari biasanya

2. Terjadi perubahan emosi nan cukup drastis

3. Tiba-tiba terlihat sangat dekat dengan seseorang nan baru dikenal

4. Sering menyembunyikan pesan alias aktivitas online

Ilustrasi Anak Mendapat Hadiah. Foto: Shutterstock

5. Mendapatkan bingkisan alias peralatan tanpa penjelasan nan jelas

6. Mulai menjauh dari family maupun kawan sebaya

7. Tampak lebih cemas, mudah marah, alias melindungi ketika ditanya tentang seseorang tertentu.

“Intinya adalah ada perubahan perilaku drastis dari anak dan munculnya orang batu nan lebih menarik perhatian anak,” tegas Gita.

Tips bagi Orang Tua agar Anak Terhindar dari Child Grooming

-Membangun hubungan nan hangat dan kondusif secara emosional agar anak nyaman bercerita.

-Mengajarkan body safety alias keamanan tubuh sejak dini.

-Mengenalkan konsep consent (persetujuan) dan batas dalam relasi nan sehat.

-Membiasakan anak berani berbicara "tidak" pada situasi nan membuatnya tidak nyaman, termasuk kepada orang dewasa.

-Melakukan pengawasan digital nan sehat dan sesuai usia anak.

-Menanamkan pemahaman bahwa anak berkuasa menjaga dirinya sendiri dan meminta support kapan pun saat merasa terancam alias tidak aman.

kumparan post embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan