Proyek Bioetanol Lampung Memasuki Tahap Baru

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM terus mendorong kesepakatan strategis dalam pengembangan proyek bioetanol di Provinsi Lampung. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi daya nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi.

Proyek ini melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Toyota, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), hingga Danantara Investment Management. Konstruksi proyek ditargetkan mulai pada kuartal III 2026 ni melibatkan Toyota, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), dan Danantara Investment Management.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengatakan program ini sudah melangkah satu tahun nan lampau dalam pengembangan dan koordinasi antara PNRE dan Japanese Group.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Program ini sebetulnya sudah kita jalankan dari satu tahun nan lalu, tapi memang kami silent dalam pengembangannya. Saat ini sudah ada koordinasi antara PNRE dengan Japanese Group, dalam perihal ini nan bakal ditunjuk adalah Toyota Tsuho nan bakal menjadi partner, dan bakal didukung mitra teknologi lainnya dari Jepang seperti RaBIT (konsorsium riset beberapa perusahaan otomotif dan daya Jepang)," kata Todotua Pasaribu, dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).

Todotua menjelaskan, pembangunan tahap awal proyek bakal dilakukan di Lampung. Provinsi ini dipilih lantaran mempunyai potensi kuat sebagai pemasok bahan baku (feedstock), seperti tebu, ubi, dan sorgum.

Sejak akhir 2025 hingga awal 2026, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah melakukan pengawalan melalui beragam langkah, mulai dari koordinasi lintas kementerian/lembaga dan BUMN, fasilitasi pertemuan dengan mitra teknologi dari Jepang, hingga pendampingan langsung dalam kunjungan lapangan dan identifikasi letak proyek.

Proyek bioetanol nan tengah dijajaki berbareng Toyota, PNRE, dan Danantara Investment Management ini dirancang dalam dua tahap dalam dua tahap. Tahap awal alias pilot project ditargetkan mempunyai kapabilitas 60 kiloliter per tahun pada kuartal III 2027. Selanjutnya, tahap komersial ditargetkan mencapai 60.000 kiloliter per tahun pada kuartal IV 2028.

Pengembangan dilakukan dengan pendekatan multi-feedstock, memanfaatkan beragam bahan baku seperti limbah biomassa kelapa sawit, jagung, dan sorgum. Teknologi generasi kedua (2G) bakal digunakan untuk meningkatkan elastisitas pasokan sekaligus menjaga keberlanjutan jangka panjang.

Selain itu, pengembangan juga mencakup budidaya sorgum secara bertahap, dimulai dari pilot seluas 10 hektare pada 2026 hingga pengembangan komersial mencapai 6.000 hektare pada 2027. Proyek ini bakal berlokasi di Lampung dengan support lahan dari PTPN.

Di sisi kebijakan, pemerintah telah menyiapkan roadmap mandatori pencampuran bioetanol dalam bahan bakar, mulai dari E5 pada 2026-2027, meningkat menjadi E10 pada 2028-2030, hingga menuju E20 dalam jangka panjang.

"Kita mendorong proyek ini dalam rangka untuk mempersiapkan komitmen roadmap mandatori menjadi E10, sehingga negara kita juga siap," ujar Todotua.

Ia juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar nan mencapai sekitar 61% dalam satu dasawarsa terakhir. Kondisi ini diperparah oleh volatilitas nilai minyak bumi akibat dinamika geopolitik global.

Sejalan dengan pengarahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah memfokuskan kebijakan pada tiga pilar utama, ialah swasembada energi, ketahanan pangan, dan hilirisasi sumber daya alam. Indonesia dinilai mempunyai kelebihan komparatif kuat, antara lain persediaan nikel terbesar bumi (42%), serta posisi sebagai produsen utama kelapa sawit dan kelapa dunia nan berpotensi menjadi bahan baku bioenergi.

Pemerintah juga mengapresiasi keterlibatan Toyota dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Namun, kesempatan kerja sama dinilai tetap terbuka luas, khususnya dalam pengembangan bioetanol berbasis multi bahan baku.

CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda mengatakan Toyota mengapresiasi obrolan konstruktif dan progresif dengan stakeholder mengenai dalam eksplorasi kerjasama di ekosistem bioenergi.

"Kami mengapresiasi obrolan nan konstruktif dan progresif dengan stakeholders mengenai untuk mengeksplorasi potensi kerjasama di ekosistem bioenergi. Selain itu, melalui kemitraan strategis kami dengan CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited) di Indonesia, kami bermaksud untuk memperluas keahlian kami dari perakitan battery pack hingga manufaktur baterai dari sel dan modul baterai. Kolaborasi ini bakal memperkuat rantai pasok lokal nan kuat, mendukung pendekatan Multi-Pathway Toyota menuju netralitas karbon," ujar Masahiko Maeda.

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya berkepanjangan pemerintah dalam memperkuat kerjasama internasional guna mendorong investasi berbobot serta mempercepat transformasi ekonomi berbasis hilirisasi dan daya berkepanjangan di Indonesia.


(ega/ega)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance