Profil dan Pendidikan Chairul Anwar, Eks Dirut Kebun Binatang Surabaya yang Terseret Kasus Dugaan Korupsi Pakan Hewan

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Profil dan Pendidikan Chairul Anwar, Eks Dirut Kebun Binatang Surabaya nan Terseret Kasus Dugaan Korupsi Pakan Hewan

Chairul Anwar. (Foto: Istimewa)

NAMA Chairul Anwar menjadi sorotan publik. Pasalnya, mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya (KBS) tersebut ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan finansial KBS.

Chairul diduga terlibat dalam penyalahgunaan anggaran perusahaan. Nilai kerugiannya mencapai sekitar Rp10,2 miliar!

1. Profil Chairul Anwar

Chairul Anwar merupakan mantan ketua PDTS Kebun Binatang Surabaya. Dia menjabat sebagai Direktur Utama pada periode 2016–2024.

Sebelum memimpin KBS, Chairul diketahui mempunyai pengalaman di lingkungan badan upaya milik wilayah (BUMD). Termasuk, dia pernah menjabat sebagai Direktur Utama PDAM Kabupaten Pasuruan.

Chairul ditunjuk sebagai Direktur Utama KBS pada 2016 oleh Pemerintah Kota Surabaya. Selama masa kepemimpinannya, Chairul bertanggung jawab terhadap pengelolaan operasional kebun binatang, termasuk pengelolaan keuangan, fasilitas, serta kebutuhan satwa.

2. Pendidikan Chairul Anwar

Informasi mengenai riwayat pendidikan umum Chairul Anwar belum banyak dipublikasikan secara terbuka. Namun, Chairul Anwar diketahui merupakan Doktor Ilmu Administrasi Publik dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya pada 2023.

Kasus nan menyeret Chairul Anwar berangkaian dengan dugaan penyalahgunaan anggaran pengelolaan finansial PDTS KBS selama periode kepemimpinannya. Penyidik menduga terdapat penggunaan biaya nan tidak sesuai peruntukan, termasuk dugaan pengeluaran fiktif dan penggunaan anggaran perusahaan untuk kepentingan pribadi.

Dalam perkara tersebut, interogator menduga terdapat penyimpangan terhadap sejumlah pos anggaran, termasuk anggaran operasional seperti kebutuhan pakan satwa. Akibat dugaan penyimpangan tersebut, negara dan perusahaan wilayah disebut mengalami kerugian sekitar Rp10,2 miliar.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com