Feby Novalius
, Jurnalis-Selasa, 20 Oktober 2026 |19:15 WIB

Produktivitas padi di lahan tadah hujan di Indramayu, Jawa Barat, meningkat dari rata-rata 5,6 ton menjadi 8,21 ton per hektare saat panen raya. (Foto: Okezone.com/Kelompok Tani)
JAKARTA — Produktivitas padi di lahan tadah hujan di Indramayu, Jawa Barat, meningkat dari rata-rata 5,6 ton menjadi 8,21 ton per hektare saat panen raya. Peningkatan tersebut tercatat di tengah tantangan budidaya nan berjuntai pada kesiapan air hujan dan rentan terhadap kekeringan saat kejadian El Niño.
Ketua Kelompok Tani Gentong Jaya, Sarpi, mengatakan panen tersebut berjalan di lahan seluas 110 hektare. Ia menyebut penggunaan pupuk hayati cair menjadi salah satu bagian dari praktik budidaya nan diterapkan petani.
“Penggunaan PHC ExtraGen ini sukses mengurangi pupuk kimia 20 persen, namun hasilnya meningkat. Tanah jadi subur, tanaman hijau sehat jauh dari hama,” kata Sarpi.
Meski demikian, kontribusi pupuk terhadap kenaikan produktivitas tersebut tetap perlu ditelaah melalui info pembanding nan terukur. Hasil panen juga dapat dipengaruhi beragam faktor, seperti kesiapan air, kondisi tanah, cuaca, dan teknik budidaya.
Pengukuran hasil panen dilakukan menggunakan metode ubinan dan disaksikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu, unsur unit pelaksana teknis daerah, serta penyuluh pertanian setempat. Metode tersebut digunakan untuk memperkirakan produktivitas berasas sampel petak lahan.
Di luar capaian panen, kesiapan air tetap menjadi persoalan bagi petani di wilayah tersebut. Sarpi menyebut sekitar 40 persen lahan pertanian di area itu merupakan lahan tadah hujan nan berjuntai pada curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
Ketergantungan tersebut membikin aktivitas budidaya rentan ketika curah hujan tidak mencukupi. Keterbatasan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan akibat penurunan hasil panen.
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·