Jakarta, CNBC Indonesia - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan produksi nikel matte sebesar 13.620 metrik ton sepanjang triwulan pertama tahun 2026 (Q1/2026). Produksi nikel matte perusahaan menurun jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya pada Q4/2025 nan mencapai 17.052 metrik ton.
Berdasarkan laporan finansial INCO, secara tahunan (year on year/YoY) produksi nikel matte perusahaan pada periode Q1/2025 mencapai 17.027 metrik ton.
Adapun, capaian produksi Q1/2026 tersebut seiring dengan rencana perusahaan nan tengah melakukan aktivitas pemeliharaan terencana guna menjaga keandalan akomodasi produksi nan dikelola.
Penurunan volume produksi nikel matte tersebut dipengaruhi oleh proses pembangunan kembali Furnace 3 nan dijadwalkan rampung pada semester pertama tahun ini.
"Hasil ini sepenuhnya sesuai dengan rencana Perseroan, nan mencerminkan optimasi aktivitas pemeliharaan nan terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 nan dijadwalkan selesai pada semester pertama tahun 2026, serta akibat dari persetujuan RKAB 2026," tulis perusahaan dalam laporan keuangannya, dikutip Kamis (30/4/2026).
Penurunan produksi nikel matte perusahaan juga dinilai lantaran akibat dari kebijakan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 nan disetujui oleh pemerintah. Sejalan dengan penyesuaian produksi nan direncanakan, pengiriman nikel matte menurun sebesar 25% secara triwulanan.
"Ke depan, PT Vale tetap berada di jalur nan tepat untuk mencapai sasaran produksi setahun penuh sebesar 67.645 ton dan berada pada posisi nan baik untuk memperoleh peningkatan dari nilai nikel LME nan lebih tinggi," tulis manajemen.
INCO menilai, tahun 2026 juga menjadi tonggak krusial bagi perusahaan lantaran dimulainya operasional tiga blok pertambangan secara serentak, ialah Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Harapannya, penguatan diversifikasi produksi bisa meningkatkan pendapatan perseroan seiring dengan realisasi penjualan pertama bijih nikel limonit dari Blok Pomalaa.
Perusahaan memproyeksikan tren nilai nikel bumi bakal terus berada dalam trajektori kenaikan. Perseroan optimis berada pada posisi nan kuat untuk memaksimalkan nilai dari operasional tambang terintegrasi tersebut.
Di sisi finansial, INCO sukses mencatatkan peningkatan untung bersih menjadi US$ 43,6 juta alias sekitar Rp 752 miliar (asumsi kurs Rp 17.255 per US$) pada Kuartal I-2026 dibandingkan periode nan sama tahun lampau (Kuartal I-2025) nan tercatat sebesar US$ 21,8 juta.
Capaian ini tak terlepas dari peningkatan pendapatan dan EBITDA perusahaan. Perusahaan sukses mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 22,3% menjadi US$ 252,7 juta pada Kuartal I-2026 dari US$ 206,6 juta pada Kuartal I-2025 lalu.
Begitu juga dari sisi EBITDA melonjak 54,9% menjadi US$ 80,1 juta dari US$ 51,7 juta pada Kuartal I-2025.
Melalui pernyataan resmi Vale, positifnya keahlian pada Kuartal I-2026 ini juga dipicu oleh meningkatnya nilai nikel dunia. Selama Kuartal I-2026 PT Vale mencatat nilai rata-rata nikel matte sebesar US$ 14.213 per metrik ton, meningkat 15% dari US$ 12.308 per metrik ton pada Kuartal IV-2025.
"Yang perlu diperhatikan, tahun 2026 menandai tahun penuh pertama penjualan nikel matte dengan tingkat pembayaran 82%, nan memberikan pedoman pendapatan nan lebih kuat dan visibilitas margin nan lebih baik," ungkap perusahaan.
"Ke depannya, dengan nilai nikel LME nan diperkirakan bakal tetap berada pada tren kenaikan, Perseroan berada pada posisi nan baik untuk lebih meningkatkan nilai dari struktur komersialnya nan telah dioptimalkan," imbuhnya.
Dari sisi biaya, biaya tunai per unit penjualan nikel matte pada Kuartal I-2026 tetap kompetitif di US$ 10.382 per ton, sedikit lebih tinggi dari US$ 9.573 per ton pada Kuartal IV-2025, terutama mencerminkan nilai input komoditas nan lebih tinggi.
Untuk upaya bijih nikel, biaya tunai per unit tetap stabil, dengan Bahodopi di US$ 21 per ton dan Pomalaa di US$ 13 per ton, termasuk royalti dan logistik.
"Dalam waktu dekat, Perseroan mengharapkan optimasi biaya tunai bakal didorong oleh volume penjualan nan lebih tinggi dari blok Pomalaa seiring dengan peningkatan skala operasi. Peningkatan volume diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya dan menghasilkan skala ekonomi nan lebih besar, nan sebagian bakal mengimbangi pedoman biaya nan secara struktural lebih tinggi di Bahodopi dan mendukung profil biaya keseluruhan nan lebih seimbang," bunyi pernyataan perusahaan.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·