Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengungkapkan penyebab tetap rendahnya produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) alias Blok Rokan di Riau pada awal 2026.
Berdasarkan catatan SKK Migas, hingga Mei 2026, realisasi lifting minyak Blok Rokan tercatat sebesar 131.040 barel per hari (bph) alias sekitar 80% dari sasaran nan ditetapkan pada APBN 2026 sebesar 163.859 bph.
Direktur Utama PHR Muhamad Arifin menjelaskan, tetap rendahnya produksi minyak di awal tahun lantaran dipengaruhi sejumlah gangguan operasional, mulai dari terhentinya pasokan gas hingga hambatan kelistrikan.
Menurut dia, pasokan gas ke Blok Rokan sempat terganggu akibat putusnya pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada periode 2 Januari hingga 2 Februari 2026. Kondisi tersebut berakibat terhadap operasi produksi di lapangan.
"Atas persoalan tersebut, sudah teratasi dan saat ini PHR Rokan bisa apa namanya menerima suplai gas sesuai dengan kebutuhan," ungkap Arifin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).
Selain gangguan pasokan gas, PHR juga menghadapi tantangan di sektor kelistrikan nan berjalan sejak akhir 2025. Gangguan tersebut memengaruhi sejumlah akomodasi produksi di lapangan.
Oleh karena itu, saat ini pihaknya berbareng PLN tengah menyelesaikan perbaikan genset di akomodasi MCTN. Ia pun berambisi proses perbaikan dapat rampung dan sistem kelistrikan kembali normal pada pertengahan Juli 2026.
"Saat ini year-to-date-nya di Rokan produksi kita sudah di 131.000 barrels oil per day dan insya Allah diprognosakan semuanya lancar, minta doanya Bapak Ibu sekalian jika kita bisa di tahun ini memproduksi sampai di 144.000 barrels oil per day," ujarnya.
Sebelumnya, di kesempatan nan sama, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membeberkan argumen di kembali rendahnya realisasi produksi minyak pada awal tahun. Adapun perihal tersebut terjadi lantaran dipengaruhi sejumlah faktor.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan rendahnya realisasi produksi minyak dipengaruhi sejumlah gangguan operasional. Pada kuartal pertama misalnya, terjadi kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) nan berakibat pada tujuh kontraktor perjanjian kerja sama (KKKS) di Terminal Dumai serta dua pemasok gas.
"Untuk realisasi produksi jika kita lihat di diagram ini, di Januari sangat rendah lantaran terjadi pipa putus sehingga tujuh KKKS produksinya sempat berhenti," ujar Djoko.
Adapun, setelah gangguan tersebut teratasi produksi sempat meningkat. Namun demikian, pada kuartal kedua muncul hambatan baru berupa gangguan kelistrikan di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip, Blok Rokan, nan dioperasikan ExxonMobil Cepu Ltd.
"Setelah itu ada problem kelistrikan di PHR dan dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip, dimana dua blok migas ini nan merupakan penopang terbesar produksi nasional kita," katanya.
Perlu diketahui, realisasi produksi minyak siap jual alias lifting minyak nasional hingga 31 Mei 2026 mencapai 576,2 ribu barel per hari (bph). Jumlah tersebut terdiri dari produksi minyak sebesar 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan NGL 29,1 ribu bph.
Angka ini tetap lebih rendah dari sasaran lifting minyak tahun ini nan dipatok sebesar 610 ribu bph.
Pertamina Hulu Rokan tercatat tetap berada di ranking teratas sebagai produsen minyak terbesar RI.
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·