Prediksi Awal Kemarau 2026 di Indonesia Beserta Daftar Wilayahnya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim tandus 2026 nan lebih panjang dari normalnya. Sebagian besar wilayah RI diprediksi mengalami puncak tandus pada bulan Agustus 2026.

Berdasarkan Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia nan dikeluarkan oleh BMKG, awal musim tandus di Indonesia tidak terjadi bersamaan. Dari total 699 Zona Musim (ZOM), sebanyak 4 ZOM (0,6%) telah memasuki periode musim tandus pada Februari 2026 dan sebanyak 7 ZOM (1,0%) memasuki periode musim tandus pada Maret 2026.

Berikut rinciannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Pada April 2026, sebanyak 114 ZOM (16,3%) diprediksi bakal memasuki musim kemarau, meliputi:

  • Pesisir utara Jawa bagian barat,
  • Pesisir utara dan selatan Jawa Tengah,
  • Sebagian besar D.I Yogyakarta,
  • Sebagian Jawa Timur,
  • Sebagian Bali,
  • Nusa Tenggara Barat,
  • Nusa Tenggara Timur, dan
  • Sebagian mini Sulawesi Selatan.

2. Pada Mei 2026, wilayah nan diprediksi bakal memasuki musim tandus mencapai 184 ZOM (26,3%) mencakup:

  • Aceh bagian utara,
  • Sebagian Sumatera Utara,
  • Sebagian Riau,
  • Sebagian mini Kepulauan Riau,
  • Sebagian Jambi,
  • Sebagian Sumatera Selatan,
  • Lampung,
  • Sebagian besar Jawa,
  • Bali bagian tengah,
  • Sebagian mini Nusa Tenggara Barat,
  • Kalimantan Tengah bagian tenggara,
  • Kalimantan Selatan bagian barat,
  • Sulawesi Selatan bagian barat,
  • Sebagian mini Gorontalo,
  • Sebagian Maluku,
  • Papua bagian timur,
  • Papua Pegunungan,
  • Sebagian Papua Selatan.

3. Sebanyak 163 ZOM (23,3%) diprediksi mulai mengalami musim tandus pada bulan Juni 2026 nan meliputi:

  • Sebagian besar Aceh,
  • Sebagian Sumatera Utara,
  • Sumatera Barat,
  • Riau,
  • Sebagian Jambi,
  • Sebagian Bengkulu,
  • Kepulauan Bangka Belitung,
  • Sebagian Sumatera Selatan,
  • Sebagian mini Lampung,
  • Sebagian mini Jawa,
  • Sebagian besar Kalimantan,
  • Sebagian Sulawesi Utara,
  • Gorontalo bagian utara,
  • Sebagian Sulawesi Barat,
  • Sebagian Sulawesi Tengah,
  • Sebagian mini Sulawesi Selatan,
  • Sebagian Sulawesi Tenggara,
  • Sebagian Maluku,
  • Sebagian Papua Barat,
  • Papua bagian timur.

4. Sebanyak 63 ZOM (9,0%) diprediksi mulai mengalami musim tandus pada Juli 2026, mencakup:

  • Sebagian Kalimantan Selatan,
  • Sebagian Kalimantan Timur,
  • Sebagian besar Sulawesi,
  • Sebagian Maluku Utara,
  • Sebagian Maluku, dan
  • Sebagian mini Papua Barat.

5. Pada Agustus 2026, sebanyak 26 ZOM (3,8%) diprediksi memasuki musim kemarau, meliputi:

  • Sebagian mini Kalimantan Timur,
  • Sulawesi Selatan bagian utara,
  • Sulawesi Tenggara bagian utara,
  • Sulawesi Tengah bagian timur,
  • Sulawesi Utara bagian selatan,
  • Sebagian Maluku Utara,
  • Sebagian Maluku, dan
  • Papua Pegunungan.

Antisipasi Risiko Musim Kemarau

Menanggapi beragam akibat nan mungkin terjadi sepanjang musim tandus 2026, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menekankan pentingnya langkah antisipasi bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat. Di sektor pangan, para petani perlu segera menyesuaikan agenda tanam dengan memilih varietas nan lebih irit air, tahan kekeringan, serta mempunyai siklus panen nan lebih singkat.

"Langkah ini kudu dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan pengedaran demi menjamin kesiapan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi," ujarnya.

Selain manajemen air, kewaspadaan terhadap akibat lingkungan juga menjadi prioritas utama. Pemerintah wilayah perlu menyiapkan sistem respons sigap untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla).

"BMKG menegaskan bahwa seluruh info prediksi ini merupakan corak peringatan awal (Early Warning) nan kudu segera diterjemahkan menjadi tindakan nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan akibat musibah kekeringan di Indonesia," pungkasnya.

(kny/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News