Jakarta, CNBC Indonesia - Prancis kembali menjadi sorotan pasar finansial setelah biaya pinjaman pemerintah melonjak mendekati level tertinggi sejak krisis finansial dunia 2008. Memburuknya kondisi fiskal dan kebuntuan politik membikin penanammodal semakin cemas terhadap prospek utang negara tersebut.
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun pekan lampau menembus 4,13%, level tertinggi sejak 2008, sebelum memperkuat di sekitar 4,1% pada Jumat. Kenaikan imbal hasil menunjukkan meningkatnya premi akibat nan diminta penanammodal untuk memegang surat utang Prancis.
Kepala Divisi Pendapatan Multi-Aset di Ninety One, John Stopford, menilai persoalan fiskal Prancis memang bukan kejadian nan berdiri sendiri. Namun, menurutnya, kondisi negara tersebut menjadi salah satu contoh paling mencolok dari memburuknya finansial negara maju setelah pandemi, perang, dan krisis energi.
"Ini bukan hanya masalah Prancis, tetapi bisa dibilang bahwa dalam banyak hal, Prancis adalah salah satu contoh nyata dari masalah ini," ujar Stopford, seperti dikutip CNBC International, Senin (31/7/2026).
"Kondisi finansial publik Prancis memang bergerak ke arah nan salah," tambahnya.
Tekanan tersebut tercermin dari defisit anggaran Prancis nan mencapai 5,1% dari produk domestik bruto (PDB) tahun lalu, jauh di atas pemisah 3% Uni Eropa. Rasio utang pemerintah juga telah melampaui 115% PDB, sementara IMF memperkirakan angkanya mencapai sekitar 118,5% pada 2026 dan menembus 120% pada 2027.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Prancis tetap lemah. Perekonomian menyusut 0,2% secara kuartalan pada tiga bulan pertama tahun ini dan stagnan pada kuartal kedua, mempersempit ruang pemerintah untuk memperbaiki rasio utang melalui pertumbuhan ekonomi.
Ahli strategi suku kembang di Natixis CIB, Theophile Legrand,mengatakan obligasi pemerintah Prancis alias OAT sekarang berada dalam kondisi "tertekan". Menurutnya, pasar tidak hanya menunggu penurunan defisit, tetapi juga bukti bahwa anggaran 2027 mempunyai jalur nan andal untuk menstabilkan utang publik.
"Jalur tersebut sekarang semakin susah untuk diwujudkan," kata Legrand menyebut perang, suku kembang jangka panjang nan lebih tinggi, serta gelombang panas dan kebakaran rimba disebut menambah ketidakpastian terhadap kalkulasi fiskal Prancis.
Masalah ekonomi tersebut diperburuk oleh situasi politik nan terfragmentasi. Parlemen Prancis berulang kali menghadapi kebuntuan anggaran, mosi tidak percaya, hingga pergantian pemerintahan, sementara anggaran 2027 diperkirakan kembali menjadi pertarungan politik besar menjelang pemilihan presiden.
Sementara itu, Kepala Spesialis Investasi di Insight Investment April LaRusse, mengatakan hanya ada sedikit tanda bahwa pemerintah Prancis sedang melakukan penyesuaian fiskal nan dibutuhkan.
"Ekspektasi pertumbuhan ekonomi direvisi turun, utang diperkirakan bakal terus meningkat, dan imbal hasil obligasi sekarang berada di tingkat nan belum pernah terlihat sejak krisis keuangan," ujarnya.
Ketidakpastian semakin besar lantaran pemilihan presiden 2027, dengan Marine Le Pen dari kubu sayap kanan jauh menjadi salah satu kandidat utama. Stopford menilai perubahan pemerintahan dapat mengubah arah kebijakan, tetapi pasar tetap meragukan adanya kemauan politik untuk melakukan konsolidasi fiskal besar-besaran.
"Jadi ya, menurut saya kita mungkin sedang menuju situasi krisis. Hanya saja, saya tidak percaya krisis itu bakal terjadi hari ini," katanya.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·