Dubes Prancis Fabien Penone memberikan penghargaan kepada Wakil Rektor ITB Andryanto Rikrik Kusmara.(MI/Naviandri)
PEMERINTAH Republik Prancis, melalui Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN Fabien Penone memberikan penghargaan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques kepada Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian dan Administrasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Andryanto Rikrik Kusmara. Pemberian penghargaan diadakan di Gedung Gedung Center for Arts, Design and Language (CADL) ITB pada Kamis (11/6).
Untuk diketahui, Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques merupakan salah satu tanda kehormatan nan diberikan Pemerintah Prancis kepada tokoh nan dinilai memberikan kontribusi luar biasa dalam pengembangan pendidikan, pengetahuan pengetahuan, kebudayaan, serta pengayaan warisan budaya. Penghargaan ini ditetapkan oleh Napoleon pada tahun 1808 dan telah diberikan kepada sejumlah tokoh terkemuka dunia, antara lain Marie Curie, Jean-Baptiste Charcot dan Léopold Sédar Senghor.
Duta Besar Fabien Penone menyampaikan selamat atas penghargaan tersebut. “Hari ini, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, Anda berasosiasi dengan golongan terhormat (seperti seperti Marie Curie, Jean-Baptiste Charcot, dan Léopold Sédar Senghor). Saya senang bahwa upacara ini dapat diselenggarakan di ITB, sebuah simbol kelebihan Indonesia sekaligus mitra lama Prancis. Melalui diri Anda, Prancis memberikan penghormatan kepada seorang seniman, pendidik, dan pembangun,” ungkap Fabien Penone.
Fabien menilai kontribusi Rikrik bagi kebudayaan Indonesia tidak terbatas pada lembaga maupun ruang kelas. Sebagai kurator, Rikrik telah turut membentuk lanskap seni kontemporer di Indonesia dengan memberi ruang bagi beragam karya dan pendapat untuk datang ke publik. Ia juga menyoroti peran Rikrik dalam memperkuat kerja sama antara Bandung dan Saint-Étienne, Prancis.
"Pada 2015, saat Bandung ditetapkan sebagai Kota Kreatif UNESCO, Rikrik berkesempatan mengunjungi Saint-Étienne, kota pertama di Prancis nan berasosiasi dalam jaringan kota imajinatif UNESCO pada tahun 2010. Kunjungan tersebut berkembang menjadi kerjasama berkepanjangan nan mempertemukan desain, pendidikan, penemuan dan kebudayaan," jelasnya.
MATERIAL LIBRARY
Salah satu hasil nyata dari kerja sama tersebut adalah lahirnya Material Library pertama di Indonesia di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Fasilitas ini menjadi sarana pembelajaran dalam pendidikan kreasi sekaligus pusat transdisipliner nan memetakan material alami dan inovatif dari Asia Tenggara.
Ruang ini juga menjadi tempat pendokumentasian pola tenun tradisional dan motif kriya dari beragam wilayah Nusantara, sehingga warisan budaya dapat terus “berdialog” dengan praktik kreasi kontemporer.
Fabien juga menyampaikan bahwa Rikrik telah mengembangkan jejaring kemitraan dengan beragam lembaga terkemuka di Prancis, di antaranya Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dan École Supérieure d’Art et Design Saint-Étienne.
"Rikrik juga menjadi salah satu tokoh krusial dalam program Bandung–Saint-Étienne Design Cities, program residensi nan mempertemukan lembaga akademik, pusat riset, industri, dan masyarakat sipil," tuturnya.
Sementara itu, Rikrik menyampaikan rasa syukur dan kehormatan atas penghargaan nan diberikan. Penghargaan tersebut bukan semata-mata pengakuan atas pencapaian pribadi, melainkan juga penghormatan terhadap perjalanan panjang kolaborasi, persahabatan, dan pertukaran intelektual antara Indonesia dan Prancis.
“Ini merupakan momen nan sangat berarti dalam perjalanan pekerjaan dan ahli saya. Dengan penuh rasa syukur, kerendahan hati, dan kehormatan nan mendalam, saya menerima tanda kehormatan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques nan dianugerahkan oleh Pemerintah Republik Prancis,” terangnya.
KEDEKATAN DENGAN PRANCIS
Rikrik menyebut, kedekatannya dengan kebudayaan Prancis terjalin sejak masa muda. Ia tumbuh tidak jauh dari Centre Culturel Français (CCF) Bandung, nan sekarang dikenal sebagai Institut Français d’Indonésie (IFI).
Baginya, CCF menjadi salah satu jendela Bandung menuju dunia, tempat nan memperkenalkan nilai rasa mau tahu, keterbukaan, produktivitas dan perbincangan budaya. Sebagai mahasiswa seni di ITB pada awal 1990-an, dia mengenal tradisi pemikiran Prancis melalui pameran, pemutaran film, kuliah umum, pertunjukan, publikasi, dan beragam program kebudayaan.
"Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa seni dan kebudayaan bukan sekadar pencarian estetika, melainkan langkah krusial bagi masyarakat memahami diri, berinteraksi dengan pihak lain dan membayangkan masa depan," tandasnya.
Dalam perjalanan profesionalnya, Rikrik terus memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara kebudayaan, pendidikan dan diplomasi. Ia terlibat aktif dalam sektor seni, budaya dan imajinatif Indonesia melalui pengelolaan, jejaring, serta kurasi. Melalui kerjasama dengan kementerian, lembaga pemerintah, organisasi seni dan lembaga kebudayaan, dia turut berkontribusi dalam pengembangan kebijakan kebudayaan, pameran, festival, program pendidikan, dan beragam inisiatif untuk memperkuat ekosistem imajinatif Indonesia.
Rikrik juga mengapresiasi IFI nan menjadi mitra dalam membuka jejaring internasional dan kesempatan intelektual. Sejak tahun 2013, kerja sama dengan IFI turut mendukung pengembangan Program Magister Seni di ITB serta mempertemukan ITB dengan beragam akademisi dan lembaga kebudayaan terkemuka di Prancis.
MEMBERI INSPIRASI
Berbagai pengalaman kerjasama tersebut memberikan inspirasi bagi pendidikan seni dan desain, kebijakan kebudayaan, serta pengembangan imajinatif di Indonesia.
Sejumlah inisiatif di Bandung, seperti Bandung Photography Triennale, Bandung Connex, Bandung Design Biennale, Bandung Light Festival, kebangkitan kembali Pasar Seni ITB setelah sebelas tahun vakum, Akulturasa sebuah pagelaran nan menyatukan sains, teknologi dan seni, serta Museum ITB nan bakal diresmikan pada 3 Juli 2026, menjadi contoh gimana kerja sama kebudayaan dapat memberi akibat luas.
“Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa kerja sama kebudayaan bukan hanya tentang pertukaran pengetahuan. Nilai sejatinya terletak pada penguatan institusi, ekspansi kesempatan bagi masyarakat dan generasi muda, pengembangan inovasi, serta pembuatan akibat sosial dan ekonomi nan berkelanjutan,” sambungnya.
Rikrik juga merupakan Lektor Kepala di FSRD ITB dan tergabung dalam Kelompok Keahlian Seni Rupa. Ia meraih gelar Sarjana Seni dari ITB pada tahun 1995, Magister Seni pada tahun 1999 dan Doktor dari ITB pada tahun 2011. Sebelum menjabat sebagai wakil rektor, dia pernah mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·