Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta pada triwulan pertama 2026 mencapai 13,97%. Capaian ini disebut nan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Hal itu disampaikan Pramono dalam konvensi pers realisasi APBD triwulan pertama 2026 di Balai Kota Jakarta, Jumat (17/4/2026). Ia menegaskan capaian tersebut merupakan hasil percepatan penyelenggaraan program prioritas sejak awal tahun.
"Belanja wilayah 13,97% alias Rp 10,38 triliun. Ini menunjukkan performa APBD kita sehat dan melangkah dengan baik," kata Pramono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pendapatan wilayah tercatat sebesar Rp 9,57 triliun alias 13,39%. Adapun penerimaan pembiayaan mencapai 58,92% alias Rp 5,82 triliun, sedangkan pengeluaran pembiayaan sebesar Rp 243,2 miliar alias 3,45%.
Pramono juga mengungkapkan hingga akhir Maret 2026, sebanyak 94.798 paket pengadaan telah diselesaikan. Ia meminta jajarannya mempercepat sisa pengadaan agar penyerapan anggaran tetap optimal.
"Kami minta untuk sisanya dipercepat sehingga performa APBD kita tetap terjaga," ujarnya.
Di sisi lain, Pramono menyebut kondisi ekonomi Jakarta tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Jakarta pada 2025 tercatat sebesar 5,21%, lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 5,11%.
Pramono juga menyoroti inflasi Jakarta nan berada di nomor 3,37%, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,48%. "Pertumbuhan ekonominya lebih tinggi, tetapi inflasinya lebih rendah. Artinya ekonomi Jakarta terawat dengan baik," ungkapnya.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta, Michael Rolandi, menambahkan capaian shopping 13,97% ini merupakan nan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2022 realisasi triwulan I hanya 9,96%, 2023 sebesar 9,86%, 2024 sebesar 10,31%, dan 2025 sebesar 13,19%.
"Ini perubahan signifikan. Kita tidak lagi pola 'stick hockey', tapi menuju kurva S dalam penyerapan anggaran," jelas Michael.
Meski demikian, dia mengakui realisasi shopping nan sedikit lebih tinggi dibanding pendapatan membikin pengelolaan arus kas menjadi tantangan.
"Pendapatan 13,39%, shopping 13,97%. Kami kudu menjaga cash flow dengan baik," imbuhnya.
(bel/rfs)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·