Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan potensi musibah ikutan berupa retakan tanah dan likuefaksi pasca gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah. Pemetaan tersebut didasarkan pada kajian geofisika bawah permukaan nan mengidentifikasi adanya aktivitas intensif pada Struktur Graben Palolo.
Badan Geologi menjelaskan, guncangan nan berpusat di daratan 42 kilometer (km) tenggara Kota Palu tersebut mempunyai sistem sesar turun (normal fault). Tim di lapangan saat ini memantau ketat pengedaran lebih dari 150 gempa susulan nan tercatat dengan kekuatan bervariasi antara Magnitudo 2,5 hingga 5,1 hingga 18 Juni 2026.
"Kejadian gempa bumi utama nan diikuti oleh banyaknya gempa bumi susulan, menunjukkan kondisi pengetahuan bumi nan rumit, dengan jenis litologi nan beragam baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran struktur pengetahuan bumi nan berkembang intensif di wilayah terdampak," tulis Badan Geologi dalam unggahan di akun Instagram resmi, dikutip Sabtu (20/6/2026).
"Gempa bumi dapat diikuti oleh ancaman ikutan seperti retakan tanah, penurunan lahan, dan longsoran, serta likuefaksi. Masyarakat diimbau waspada dan menghindari area tebing nan berpotensi mengalami longsor," tegas Badan Geologi.
Berdasarkan info Badan Geologi, terdapat perbedaan parameter kekuatan gempa dari beragam lembaga internasional, di mana USGS mencatat Magnitudo 6,99 pada kedalaman 11,5 km, sementara GFZ melaporkan Magnitudo 6,66 pada kedalaman 10 km. Meskipun demikian, guncangan di permukaan dirasakan sangat kuat mencapai intensitas IX MMI nan dipicu oleh kondisi tanah lunak di wilayah pemukiman penduduk.
"Analisis menunjukkan sistem sesar turun nan dipicu oleh Sesar Palolo (graben), bukan Sesar Palu-Koro alias Sausu nan mempunyai sistem sesar mendatar. Kami juga tidak menemukan indikasi Sesar Palu-Koro ikut aktif akibat gempa ini," lanjut Badan Geologi.
Ditegaskan, kejadian naiknya air laut diikuti gelombang surut bukan lantaran terjadi tsunami. Melainkan pengaruh perubahan kondisi bentuk pantai akibat kuatnya goncangan, termasuk ada penurunan tanah.
"Bukan indikasi tsunami," kata Badan Geologi.
Dampak bentuk di lapangan menunjukkan adanya penurunan lahan alias land subsidence nan mengakibatkan air laut di Teluk Palu sempat terlihat surut sesaat setelah guncangan. Selain itu, ketidakstabilan lereng di Gunung Kamarora juga memicu terjadinya kejadian longsoran material serta amblesan pada badan jalan akses menuju wilayah Napu.
Wilayah terdampak nan berada pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) tingkat menengah hingga tinggi ini mempunyai pengelompokkan tanah mulai dari batuan lunak hingga tanah sangat lunak (Vs30 kelas C, D, dan E). Kondisi ini memicu munculnya potensi likuefaksi di Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, hingga sebagian wilayah Kabupaten Poso.
Badan Geologi merekomendasikan agar setiap gedung di wilayah rawan dirancang sesuai norma tahan gempa serta dilengkapi dengan jalur pemindahan nan memadai.
Masyarakat juga diimbau untuk selalu memeriksa kondisi struktur gedung guna memastikan keamanan sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah guna menghindari akibat tertimpa reruntuhan akibat gempa susulan.
Terkait potensi likuefaksi nan juga dipengaruhi tingkat guncangan dan jenis tanah, Badna Geologi menegaskan tetap bakal melakukan pantauan ketat di lapangan.
"Selalu mengikuti pengarahan serta info dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan. Jangan terpengaruh oleh info nan tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi maupun tsunami," tegas Badan Geologi.
"Tetap tenang, tidak perlu panik, namun kudu tetap waspada. Karena gempa susulan adalah perihal nan wajar, hindari gedung retak. Jangan mudah percaya rumor alias hoaks, dan selalu rujuk info resmi dari BPBD, BNPB, serta pemerintah daerah," tutup Badan Geologi.
[Gambas:Instagram]
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·