Pramono Pilih Cara Humanis Tata Pedagang Kramat Jati, Ajak Dialog Langsung

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memilih pendekatan humanis dalam menata pedagang di area Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Pramono berbincang langsung dengan pedagang untuk memastikan mereka bersedia dipindahkan dari pinggir jalan ke letak nan telah disiapkan.

Momen itu terjadi saat Pramono meninjau penataan pedagang Pasar Kramat Jati, Selasa (1/9/2026). Pramono sempat berbincang dengan seorang pedagang dan menanyakan kenyamanan berdagang di letak baru.

"Lebih lezat di pinggir jalan apa di sini?" tanya Pramono kepada pedagang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lebih lezat di sana, Pak, nan lama," jawab pedagang tersebut.

Pramono kemudian mengingatkan bahwa aktivitas berbisnis di pinggir jalan berpotensi mengganggu lampau lintas. Dia pun menawarkan support promosi agar para pedagang tetap mendapatkan pembeli meski dipindahkan ke letak baru.

"Tapi kan usik lampau lintas. Nanti kita bantu promosi, ya, Bu Kadis Kominfotik," kata Pramono.

Pramono kemudian memastikan kembali kesediaan pedagang untuk pindah ke letak nan telah disiapkan Pemprov DKI.

"Terus terang ini jualan di pinggir jalan sudah nyaris 56 tahun. Kalau dipindah ke dalam sini mau, Bu?" tanya Pramono.

"Mau, Pak. nan krusial kompak," jawab pedagang tersebut.

Pramono lampau mengingatkan pedagang nan sudah diberi tempat di dalam pasar untuk tidak kembali berdagang di pinggir jalan. Ia mendoakan penjualan para pedagang laris.

Dalam kesempatan nan sama, Pramono mengatakan penataan pedagang Kramat Jati memang bukan perkara mudah. Sebab, aktivitas perdagangan di area tersebut telah berjalan sejak awal 1970-an alias nyaris 56 tahun.

Menurutnya, penertiban tidak cukup dilakukan dengan menggusur alias memindahkan pedagang begitu saja. Pemprov DKI kudu menyiapkan tempat nan layak agar pedagang tetap bisa mencari nafkah.

"Kalau selama ini pendekatannya adalah melakukan penggusuran, memindahkan digusur, saya meminta pengganti nan lebih humanis. Untuk itu kudu ada tempat nan layak untuk mereka bisa berjualan," ujar Pramono saat ditemui di Pasar Kramat Jati.

Pramono menyebut terdapat sekitar 614 hingga 640 pedagang nan bakal ditata. Pemprov DKI telah menyiapkan sejumlah letak untuk menampung mereka.

Sebanyak 331 pedagang bakal ditempatkan di Pasar Kramat Jati Sektor 7. Kemudian, 193 pedagang ikan diarahkan ke Lokbin Kramat Jati, 45 pedagang kue ke Lokbin Cililitan, serta 45 pedagang lainnya ke pasar lain nan dikelola Perumda Pasar Jaya.

Penataan tersebut dilakukan sekaligus untuk mengembalikan kegunaan jalan dan ruang publik.

"Selain memberikan ruang untuk para pedagang bisa mencari nafkah sekaligus mengembalikan kegunaan jalan dan ruang publik," ungkapnya.

Sebagai bagian dari pendekatan tersebut, Pemprov DKI juga memberikan keringanan bagi pedagang nan menempati letak bimbingan (Lokbin) Kramat Jati. Retribusi pedagang digratiskan selama enam bulan.

Pramono mengatakan besaran retribusi normalnya Rp180 ribu per bulan alias sekitar Rp6 ribu per hari.

"Rp180.000 per bulan alias Rp6.000 per hari. Itu nan digratiskan selama 6 bulan," ujarnya.

Selain itu, Pemprov DKI bakal membenahi sejumlah akomodasi di letak baru, mulai dari saluran air hingga sirkulasi udara. Kipas angin juga bakal dipasang untuk meningkatkan kenyamanan pedagang.

Pramono menyadari proses perpindahan tidak mudah. Karena itu, dia meminta agar penataan dilakukan dengan melibatkan pedagang dan tokoh masyarakat.

"Kami tahu pasti di awal-awal pemindahan ini bagi para pedagang pasti berat," imbuhnya.

(bel/yld)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑