Pramono: Penataan Pedagang Kramat Jati untuk Kembalikan Fungsi Jalan

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Suasana Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan penataan pedagang Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, dilakukan untuk mengembalikan kegunaan jalan dan ruang publik.

Ia menilai keberadaan pedagang di area tersebut perlu ditata agar aktivitas perdagangan tetap melangkah tanpa mengganggu kepentingan masyarakat lainnya.

“Selain memberikan ruang untuk para pedagang bisa mencari nafkah sekaligus mengembalikan kegunaan jalan dan ruang publik,” kata Pramono saat meninjau penataan pedagang di Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9).

Pramono mengatakan penataan area pedagang Kramat Jati bukan perkara mudah. Sebab, aktivitas perdagangan di area tersebut telah berjalan lebih dari 50 tahun alias sejak awal 1970-an.

“Pembenahan ini terus terang tidak mudah lantaran ini sudah berjalan lebih dari 50 tahun, sejak awal tahun ’70-an,” ujarnya.

Menurut Pramono, terdapat sekitar 614 pedagang di area Kramat Jati. Pemprov DKI telah menyiapkan sejumlah letak untuk menampung para pedagang tersebut.

Rinciannya, 331 pedagang ditempatkan di Pasar Kramat Jati Sektor 7, 193 pedagang ikan di Lokbin Kramat Jati, 45 pedagang kue di Lokbin Cililitan, serta 45 pedagang lainnya di pasar nan dikelola Pasar Jaya.

Pramono menegaskan penataan dilakukan dengan pendekatan humanis. Menurutnya, pemerintah tidak bisa hanya melakukan penggusuran tanpa menyediakan tempat nan layak bagi pedagang untuk mencari nafkah.

“Kalau selama ini pendekatannya adalah melakukan penggusuran, memindahkan digusur, saya meminta pengganti nan lebih humanis. Untuk itu kudu ada tempat nan layak untuk mereka bisa berjualan,” kata Pramono.

Ia mengatakan Pemprov DKI juga memahami bahwa proses pemindahan pedagang ke letak baru memerlukan waktu untuk beradaptasi.

Untuk membantu pedagang, Pramono sebelumnya memutuskan retribusi alias iuran Lokbin Pasar Kramat Jati digratiskan selama enam bulan. Setelah masa cuma-cuma berakhir, tarif nan dikenakan sebesar Rp 180 ribu per bulan alias sekitar Rp 6 ribu per hari.

Selain itu, Pemprov DKI bakal melakukan sejumlah perbaikan di lokasi, termasuk pengaturan saluran air dan sirkulasi udara serta pemasangan kipas angin.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai meninjau penataan Pasar Ikan Kramat Jati di Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Siapkan Lokasi Tambahan

Pramono mengatakan Pemprov DKI telah menyiapkan pengganti letak nan tidak jauh dari area tersebut. Ia meminta letak itu segera dipersiapkan agar persoalan kekurangan tempat dapat diselesaikan.

Sementara Koordinator Pedagang Subuh Kramat Jati Muhtarom mengatakan jumlah pedagang mencapai sekitar 614 orang. Sementara itu, Lokbin nan tersedia mempunyai 143 tempat, tetapi nan dinilai layak digunakan hanya sekitar 120 tempat.

Dengan kondisi tersebut, tetap ada sekitar 471 pedagang nan belum mendapatkan tempat.

Muhtarom berambisi pemerintah dapat memberikan kebijakan bagi pedagang nan belum mendapatkan tempat agar tetap dapat berdagang secara tertib sembari menunggu letak nan layak.

“Kalau itu bisa dilakukan, maka persoalan kekurangan letak bagi para pedagang itu segera terselesaikan,” ujar Pramono.

Saat ditanya mengenai sasaran waktu persiapannya, Muhtarom sempat menyebut dua bulan. Namun, Pramono meminta agar persiapan dipercepat.

Muhtarom kemudian menyebut sasaran tiga minggu untuk menyiapkan letak tersebut.

“Namanya juga pedagang pasti nawarlah. Tiga minggu, ya? Semua dengar lho, ya,” kata Pramono.

Suasana Lokasi Binaan (Lokbin) Pasar Ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Pedagang Sebut Lokasi Baru Lebih Sepi

Di sisi lain, sejumlah pedagang mengaku tetap kesulitan mendapatkan pembeli setelah dipindahkan ke letak baru.

Alvin (23), pedagang ikan, mengatakan selama tiga hari berdagang di letak baru, penjualannya tetap minim. Ia cemas peralatan dagangan nan tidak terjual bakal banyak terbuang lantaran ikan merupakan peralatan nan kudu segera dijual.

Menurut Alvin, pengguna nan biasa membeli di pinggir jalan belum mengetahui letak baru tersebut. Ia mengatakan pengguna nan datang secara spontan saat melintas menjadi salah satu sumber pembelinya selama berdagang di letak lama.

“Belum ada sama sekali (yang beli),” kata Alvin saat ditanya apakah pengguna nan biasa membeli di pinggir jalan sudah datang ke letak baru.

Ia mengatakan kondisi tersebut membikin dirinya kudu kembali membangun pengguna dari awal. Alvin apalagi menyebut dari lima karung peralatan nan disediakan, terkadang hanya satu karung nan terjual sehingga sisanya terbuang.

“Yang kebuang kadang empat karungnya,” ujarnya.

Pedagang lainnya, Hamimah (35), juga mengeluhkan kondisi serupa. Ia mengatakan penjualan selama tiga hari berada di letak baru menurun drastis dibandingkan saat berdagang di pinggir jalan.

“Kalau seandainya di luar kemarin dapat Rp 300 ribu, ya di sini paling kadang Rp 100 ribu. Pokoknya menurun banget lah di sini,” kata Hamimah.

Hamimah mengatakan saat tetap berdagang di pinggir jalan, pembeli nan melintas kerap berakhir untuk berbelanja. Kondisi itu berbeda dengan letak baru nan menurutnya tetap sunyi lantaran tidak banyak orang nan masuk.

“Kalau nan di depan kan kadang orang lewat datang kerja alias dari mana berakhir mampir beli. Kalau di sini enggak ada,” ujarnya.

Ia berambisi seluruh pembeli nan sebelumnya berbelanja di pinggir jalan dapat mengetahui letak baru tersebut.

Selain jumlah pembeli, Hamimah dan suaminya, Muhammad Neri (36), juga menyoroti keterbatasan fasilitas, terutama area parkir. Menurut mereka, lahan parkir nan tersedia perlu diperluas agar pembeli lebih mudah mengakses letak pasar.

Penataan area Pasar Ikan Kramat Jati dilakukan salah satunya lantaran kondisi aktivitas perdagangan di sekitar Jalan Raya Bogor nan berakibat pada keselamatan dan kelancaran lampau lintas.

Sebelumnya pada Senin (17/8), seorang pelajar berinisial HH (17) tewas dalam kecelakaan saat hendak berangkat sekolah di Jalan Raya Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur. Korban nan mengendarai sepeda motor diduga terjatuh lantaran kondisi jalan licin dan terlindas truk sampah milik Dinas Lingkungan Hidup.

Selain itu, aktivitas pedagang di sekitar jalan juga disebut berakibat pada kelancaran lampau lintas, termasuk memicu kemacetan pada jam pulang kerja di sore hingga malam hari.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan