Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, resmi mencanangkan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas nan menghubungkan beragam moda transportasi publik di area tersebut. Infrastruktur nan dijuluki jembatan "Cincin Donat" itu ditargetkan rampung bertepatan dengan peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada Juni 2027 nanti.
"Selesainya kapan? Paling lama tahun depan bulan Juni, 22 Juni tahun depan, 500 (tahun) Jakarta sudah kudu selesai," kata Pramono usai pencanangan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas, Minggu (21/6).
Pramono mengatakan, pedestrian deck tersebut bakal menjadi simpul integrasi enam moda transportasi nan beraksi di area Dukuh Atas, mulai dari MRT, LRT, Transjakarta, kereta bandara, hingga KCI.
"Saudara-saudara sekalian, tadi telah disampaikan oleh Dirut MRT bahwa ini empat moda bakal terkoneksikan, padahal kenyataannya bukan hanya empat, menjadi enam moda terkoneksikan," ujarnya.
Menurut Pramono, keberadaan pedestrian deck bakal menciptakan konektivitas antarmoda nan lebih nyaman bagi masyarakat. Pengguna transportasi publik nantinya dapat beranjak moda tanpa kudu melangkah di area terbuka.
"Pedestrian ini dengan enam moda nan terhubung bakal menjadi seamless mobility, artinya orang tidak ada lagi nan kepanasan, kehujanan, dan sebagainya dan sebagainya," katanya.
Selain menghubungkan beragam moda transportasi, Pramono juga mengusulkan agar area tersebut dilengkapi akomodasi city check-in dan jasa imigrasi. Menurut dia, akomodasi tersebut dapat mempermudah penumpang kereta airport lantaran sejumlah proses keberangkatan dapat dilakukan dari pusat kota sebelum menuju bandara.
"Dan sekaligus saya bakal meminta kepada OPD DKI Jakarta di tempat ini juga menjadi tempat untuk imigrasi dan check-in," tuturnya.
"Sehingga dengan demikian, saya percaya pasti kelak kereta airport bakal hidup, lebih mudah, terintegrasi secara keseluruhan, dan city check-in-nya," imbuhnya.
Pramono menambahkan, adanya akomodasi ini dapat mengurangi kemacetan di Jalan Sudirman. Menurutnya, penduduk bakal lebih mudah transit dan tidak mengganggu lampau lintas.
"Dapat dipastikan pasti bakal mengurangi kemacetan. Karena kenapa? Seperti kita ketahui bersama, nyaris setiap sore ataupun jika lagi gerimis, lagi hujan, setiap pagi, orang banyak sekali turun di tepi jalan. Kemudian inilah nan mengganggu lampau lintas di tempat ini. Kalau ini sudah ada, orang tidak lagi turun ke bawah. Pasti orang bakal menggunakan jalan nan ada di atas lantaran itulah nan mau ke MRT, kereta bandara, LRT nan ke sini, pasti bakal lebih mudah lantaran semuanya ada di atas," ungkapnya.
Pramono menyebutkan, pembangunan ini melibatkan Pemerintah Jepang melalui Ministry of Land, Infrastructure, Transport and Tourism (MLIT) dan Urban Renaissance. Ia juga menyebutkan, biaya pembangunannya berasal dari MRT Jakarta.
"Tadi kan udah dijawab. Ini (sumber dana) adalah dari MRT Jakarta. Bahwa naming rights-nya kelak atas nama siapa, tolong didoakan terutama building-building nan punya gedung gede gede di sini. nan paling krusial doanya. Dan nan kemudian kenapa (ada) keterlibatan pemerintah Jepang memang betul salah satu inspirasinya adalah, apa nan dibuat di Jepang dan kondisinya sama dengan di tempat ini," sambungnya.
Dalam kesempatan itu, Pramono juga mengungkapkan bahwa pedestrian deck tersebut belum mempunyai nama resmi. Pemprov DKI berencana menggelar sayembara terbuka untuk menentukan nama nan bakal digunakan.
"Sampai hari ini, pedestrian deck ini terus terang belum punya nama, dan kelak kami bakal sayembarakan secara terbuka untuk diberikan nama. Sekarang ini ada nan menamakan, apa? Cincin Donat. Karena memang ini kelak bentuknya seperti donat," kata dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·