: Pengunjung memotret layar nan menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026).(ANTARA/PUTRA M. AKBAR)
PRAKTISI pasar modal sekaligus Co-founder PasarDana, Hans Kwee, menanggapi langkah S&P Global dan Moody's nan untuk pertama kalinya memberikan ranking kepada Danantara Investment Management (DIM). Hans menyebut rating dari dua lembaga pemeringkat dunia tersebut tetap berada dalam kategori investment grade sehingga tidak serta merta mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi Indonesia.
Sebagaimana diketahui, baru-baru ini DIM mendapatkan ranking angsuran jangka panjang 'BBB' dan jangka pendek 'A-2' dengan outlook stabil dari S&P Global serta ranking ‘Baa2’ dengan outlook negatif oleh Moody's. Hans menilai, ranking tersebut menunjukkan bahwa Moody's dan S&P Global tetap memandang DIM mempunyai kapabilitas dalam memenuhi tanggungjawab finansialnya.
Hans mengatakan outlook negatif nan diberikan Moody's lebih berangkaian dengan sejumlah faktor. Antara lain konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah, tata kelola BUMN, arah strategi investasi Danantara, serta pengelolaan APBN ke depan.
Penempatan rating DIM nan selaras dengan pemerintah Indonesia itu mencerminkan kepercayaan bahwa negara bakal memberikan support andaikan terjadi tekanan terhadap Danantara.
"Persoalan utama nan disoroti bukanlah keahlian finansial Danantara saat ini, melainkan aspek governance dan kepastian kebijakan. Moody's dan S&P memandang adanya keterkaitan nan sangat kuat antara Danantara dan pemerintah sehingga akibat nan melekat pada keduanya juga dipersepsikan serupa," kata Hans dikutio dari keterangan tertulis nan diterima, Kamis (4/6).
Meski begitu, Hans memandang kondisi esensial ekonomi Indonesia tetap berada dalam jalur nan relatif kuat. Ia mengatakan Indonesia tidak berada dalam kondisi resesi, dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di kisaran 5,6%. Selain itu, inflasi disebut Hans juga tetap terkendali di tengah tingginya nilai daya global. Sementara posisi fiskal pemerintah relatif sehat.
Lebih lanjut, Hans juga menjelaskan neraca perdagangan Indonesia nan tetap mencatatkan surplus meski mengalami penyusutan akibat meningkatnya impor energi. Lalu keahlian sektor komoditas juga memberikan support terhadap perekonomian nasional, terutama ketika nilai komoditas dunia berada pada level nan menguntungkan.
"Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia tidak seburuk nan dikhawatirkan pasar. Pertumbuhan tetap terjaga, inflasi terkendali, dan kondisi fiskal relatif baik. Hal nan menjadi perhatian penanammodal saat ini lebih kepada tata kelola dan konsistensi kebijakan," ungkapnya.
Hans menyarankan agar pemerintah untuk terus memperkuat komunikasi kebijakan, memastikan pengelolaan APBN tetap prudent, serta memperjelas strategi investasi Danantara ke depannya.
"Langkah ini sangat krusial untuk menjaga kepercayaan penanammodal sekaligus membuka kesempatan perbaikan outlook di masa mendatang," pungkas dia. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·