Foto udara sejumlah perahu nelayan ditambatkan di Pelabuhan Desa Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, Kamis (6/8/2026). Nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut selama empat hari terakhir akibat cuaca ekstrem(ANTARA/SYIFA YULINNAS)
Berdasarkan pemantauan gambaran satelit polar terbaru per 2 September 2026, kondisi cuaca di Indonesia pada awal September tetap didominasi oleh cuaca panas dan kering. Titik panas (hotspot) berkepercayaan tinggi terpantau di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kalimantan (463 titik) dan Sumatra (264 titik). Kondisi ini memicu peringatan awal mengenai potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta sebaran asap nan mengikuti arah angin.
Minimnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari menyebabkan pemanasan permukaan berjalan optimal, sehingga suhu udara meningkat signifikan. Tercatat, suhu maksimum tertinggi pada Dasarian III Agustus mencapai 37,9°C di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Suhu di atas 37,0°C juga teramati di Aceh, Lampung, dan Kalimantan Timur. Selain suhu tinggi, wilayah Indonesia bagian selatan tetap mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem panjang, dengan lama terlama mencapai 121 hari di Kabupaten Bantul, DIY.
Dinamika Atmosfer dan Peluang Hujan Lokal
Meski tandus mendominasi, hujan dengan intensitas tinggi tetap berkesempatan terjadi secara lokal. Pada periode 31 Agustus hingga 2 September, hujan sangat lebat tercatat di Sumatra Utara (111,6 mm/hari) dan Sumatra Barat (101,8 mm/hari). Fenomena ini dipicu oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, serta Gelombang Kelvin nan aktif di wilayah utara Sumatra.
Untuk sepekan ke depan (4–10 September 2026), sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan tetap kering dengan curah hujan rendah (0–150 mm/dasarian) akibat pengaruh El Nino kategori sangat kuat dan IOD positif. Namun, pertumbuhan awan hujan kategori sedang hingga tinggi tetap mungkin terjadi di Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian utara, dan Papua bagian utara.
Analisis Dinamika Atmosfer Sepekan:
- MJO Aktif: Pesisir utara Aceh, Maluku bagian timur, Laut Arafuru, dan Papua.
- Gelombang Kelvin: Melintasi Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.
- Konvergensi: Terbentuk di Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Papua Pegunungan.
Potensi Hujan dan Peringatan Dini (4–10 September 2026)
Periode 4–6 September 2026
Umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang. Waspadai peningkatan intensitas hujan di:
- Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Papua Barat Daya, dan Papua.
- Status Siaga (Hujan Lebat/Sangat Lebat): Papua Pegunungan.
- Potensi Angin Kencang: Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.
Periode 7–10 September 2026
Didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan sedang. Waspadai hujan sedang di:
- Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Papua Pegunungan.
- Potensi Angin Kencang: Mencakup wilayah luas dari Aceh, Lampung, Kep. Riau, Bangka Belitung, seluruh Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga Maluku dan Papua Selatan.
Imbauan BMKG bagi Masyarakat
Menghadapi puncak musim tandus dan cuaca panas ekstrem, masyarakat diimbau untuk:
- Perlindungan Diri: Menggunakan tabir surya dan menjaga hidrasi tubuh untuk menghindari dehidrasi saat beraktivitas di luar ruangan.
- Waspada Karhutla: Tidak membakar sampah alias membuka lahan secara sembarangan, terutama di lahan gambut dan semak belukar.
- Hemat Air: Mengantisipasi kekeringan dengan menghemat penggunaan air bersih.
- Waspada Cuaca Lokal: Tetap waspada terhadap potensi pohon tumbang, iklan roboh, dan sambaran petir saat terjadi hujan sporadis berdurasi singkat.
Masyarakat diharapkan terus memantau info resmi melalui aplikasi InfoBMKG alias laman resmi www.bmkg.go.id untuk mendapatkan pembaruan peringatan awal secara real-time.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·