Prabowo Soroti Kekayaan Indonesia Mengalir Keluar

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Prabowo Soroti Kekayaan Indonesia Mengalir Keluar Presiden Prabowo Subianto(Biro Pers dan Media Sekretariat Presiden)

PRESIDEN Prabowo Subianto mengungkapkan salah satu persoalan terbesar nan dihadapi Indonesia adalah terus mengalirnya kekayaan nasional ke luar negeri. Menurutnya, kejadian tersebut telah berjalan selama puluhan tahun dan menjadi penyebab beragam persoalan nan tetap dihadapi negara, mulai dari keterbatasan anggaran hingga rendahnya kesejahteraan sejumlah sektor.

"Yang terjadi di Indonesia ini adalah mengalir keluar kekayaan bangsa Indonesia ke luar negeri. Dalam bahasa nan keren, bahasa Inggris. nan terjadi adalah net outflow of national wealth. Kekayaan nasional kita mengalir ke luar negeri," kata Prabowo saat berpidato dalam Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026 seperti disaksikan dari YouTube Setpres, Selasa (23/6).

Prabowo mengatakan pandangan tersebut sebenarnya telah dia sampaikan sejak belasan tahun lalu. Meski bukan seorang ekonom, dia meyakini info dan kalkulasi nan digunakannya menunjukkan adanya persoalan serius dalam pengelolaan kekayaan nasional.

Ia mengeklaim kajian nan pernah disampaikannya sekarang mendapat support dari info Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) nan kemudian diolah oleh Dewan Ekonomi Nasional. Berdasarkan info tersebut, Indonesia sebenarnya menikmati surplus perdagangan dan untung besar selama lebih dari dua dekade.

Menurut Prabowo, dalam rentang 22 tahun terakhir Indonesia mencatat untung hingga US$436 miliar. Namun pada saat nan sama, aliran biaya nan keluar dari Indonesia juga sangat besar sehingga manfaatnya tidak sepenuhnya dirasakan di dalam negeri.

"Kalau sekarang ada nan mengatakan rupiah kita lemah, ini dan itu, ya lantaran kekayaannya keluar. Kalau darah kita, tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita collapse, mati," ujarnya.

Ia menggambarkan Indonesia sebagai negara nan sangat kaya sehingga tetap bisa memperkuat meskipun sebagian besar kekayaannya terus mengalir keluar. Dari info nan dipaparkan, biaya nan keluar dari Indonesia selama periode tersebut mencapai US$343 miliar, membikin untung nan tersisa menjadi jauh lebih mini dibandingkan potensi nan dimiliki.

Prabowo menilai salah satu penyebab utama kebocoran tersebut adalah praktik manipulasi laporan perdagangan alias under-invoicing. Dalam praktik itu, volume ekspor nan sebenarnya tidak dilaporkan secara penuh sehingga negara kehilangan potensi penerimaan nan besar. "Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi," katanya.

Berdasarkan info nan disebut berasal dari PBB, Prabowo mengungkapkan kerugian Indonesia akibat praktik semacam itu mencapai sekitar US$908 miliar dalam kurun 34 tahun alias setara Rp15 ribu triliun.

Ia mengatakan persoalan tersebut perlu dipahami oleh para ustadz dan pemimpin masyarakat lantaran berakibat langsung terhadap keahlian negara membiayai beragam kebutuhan publik. Menurutnya, keterbatasan anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan guru, pegawai negeri, maupun sektor pelayanan publik tidak bisa dilepaskan dari kebocoran nan terus terjadi.

"Kenapa penghasilan pembimbing tidak bisa baik? Kenapa penghasilan pegawai negeri tidak bisa baik? Kenapa anggaran selalu kurang? Karena uangnya nggak ada, diambil terus," ujar Prabowo.

Ia juga mengungkapkan bahwa kebocoran ekonomi Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar US$150 miliar alias setara Rp2.500 triliun setiap tahun. Karena itu, dia menegaskan pemerintahannya tengah konsentrasi melakukan pembenahan untuk menghentikan aliran kekayaan negara nan selama ini terus bocor.

"Kebocoran kita, kita hitung, para mahir hitung sekarang adalah kurang lebih US$150 miliar tiap tahun. Rp2.500 triliun tiap tahun. Dan ini sedang saya perbaiki semua," pungkas Prabowo. (Mir/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia