Prabowo: Perang Ukraina Bisa Lebih Lama dari Perang Dunia I dan II

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto berbincang mengenai tantangan geopolitik bumi termasuk bentrok di sejumlah negara nan tetap berjalan hingga saat ini. Ia menilai situasi bumi sekarang sangat rawan.

"Kita tetap menghadapi nan saya waktu pertemuan-pertemuan pertama kita di awal pemerintahan saya kerabat datang ke saya pun saya sudah di mana-mana saya sudah warning, apalagi sebelumnya pun saya sudah warning, hati-hati situasi dunia, situasi geopolitik sudah sangat-sangat rawan, sangat-sangat rawan," kata Prabowo dalam taklimatnya di pertemuan berbareng para ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prabowo mencontohkan perang di Ukraina nan hingga sekarang tetap berjalan sejak pecah pada 2022. Ia membandingkan lama bentrok tersebut dengan Perang Dunia II nan berjalan sekitar empat separuh hingga lima tahun.

"Di mana-mana terjadi perang dahsyat. Di, di kontinen di benua Eropa perang besar. Perang besar ini di Ukraina ini sudah lebih lama dari Perang Dunia Pertama. Ah ini mungkin bakal lebih lama dari Perang Dunia Kedua. Perang Dunia Kedua mulai September 1939 lenyap itu 40, 41, 42, 43 lenyap itu pertengahan Mei 45, jadi 5 tahun alias 4, 4 tahun setengah. Perang Ukraina mulai tahun 22 ya, 22, 23, 24, 25 sudah masuk 26. Mungkin Perang Ukraina lebih lama dari Perang Dunia Kedua juga," ujarnya.

Ia mengatakan jutaan orang telah menjadi korban dalam bentrok tersebut. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan negara nan berperang, tetapi juga memengaruhi kondisi ekonomi dunia, termasuk nilai pangan dan bahan bakar minyak (BBM).

"Jutaan sudah korban, dan kita baru mengerti bahwa perang di satu bagian dari bumi kita punya pengaruh ke mana-mana, kepada nilai pangan, nilai BBM dan sebagainya," ujarnya.

Menurut Prabowo, situasi dunia semakin rumit lantaran di saat perang Ukraina belum berakhir, bentrok di Timur Tengah justru semakin meluas. Ia menyinggung eskalasi di Gaza, Lebanon, hingga ketegangan nan melibatkan Iran di area Teluk dan Selat Hormuz nan dinilai tetap berpotensi berjalan lama.

"Belum selesai Perang Ukraina situasi di Gaza, di Lebanon, di Timur Tengah meletus lebih parah lagi. Di Teluk, di Selat Hormuz, Iran sampai sekarang belum selesai, dan kemungkinan bakal juga cukup lama. Bahkan ancaman perang nuklir tidak bisa kita remehkan baik di Ukraina maupun di Timur Tengah," ujarnya.

Tak hanya itu, Prabowo menyoroti situasi keamanan di area Asia Tenggara. Menurutnya, ASEAN nan selama ini dikenal sebagai area tenteram juga menghadapi tantangan akibat perang kerabat di Myanmar serta meningkatnya ketegangan antara Thailand dan Kamboja. Prabowo menegaskan sikap untuk terus mendukung upaya tenteram terhadap negara manapun.

"Kita terus berupaya untuk mendukung upaya-upaya perdamaian. Dan ketegangan-ketegangan di tempat lain," ujarnya.

(eva/amw)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News