Prabowo Minta Potongan Aplikator Dipangkas Jadi 8%, Ini Kata Ojol

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta - Angin segar berembus ke arah para pengemudi ojek online (ojol) di seluruh Indonesia setelah Presiden Prabowo Subianto berencana mengurangi potongan perusahaan alias aplikator menjadi 8% dari sebelumnya 20%. Ojol mengaku senang, namun cemas bakal adanya keputusan itu.

Seorang pengemudi Grab, Isa (49) mengaku mempunyai emosi kombinasi aduk. Di satu sisi, dia berterima kasih lantaran pemerintah akhirnya merespons tuntutan para driver nan sudah disuarakan selama tiga tahun terakhir.

Namun, dia cemas aplikator bakal mencari celah lain untuk menutupi penurunan komisi tersebut.

"Saya jujur saja percaya dan tidak percaya. Takutnya ini (komisi) diturunkan, tapi ada sisi lain nan dia naikkan. Misalkan pengguna tetap bayar Rp 28 ribu, kita tetap dapat segitu segitu saja lantaran fee jasa alias biaya aplikasinya nan dinaikkan," kata Isa saat ditemui di Jakarta Selatan, Sabtu (2/5/2026).

Menurutnya, transparansi mengenai biaya jasa ini tetap sangat minim. Driver, kata dia, sering kali tidak tahu kenapa potongan di satu transaksi bisa berbeda jauh dengan transaksi lainnya.

"Fee ini masalah, aplikator menetapkannya semau gue. Kadang Rp 3.000, kadang Rp 5.000. Kalau kelak komisi turun tapi biaya jasa naik, si pengguna tetap bayar mahal, dan pendapatan kita tetap segitu-segitu saja. Itu celah besar," jelasnya.

Dia berambisi Peraturan Presiden (Perpres) nan bakal mengatur perihal ini betul-betul perincian dan menutup celah manipulasi aplikator. Mereka menginginkan win-win solution di mana driver sejahtera, namun aplikator juga tetap bisa beroperasi.

"Jangan sampai Perpres ini (nanti) menekan pengusaha sampai mereka lari keluar (negeri), itu juga ancaman buat kita. Tapi tolong, aplikator lihatlah ke bawah, lihat susahnya kita di jalan," sambung Isa.

Hal serupa disampaikan mitra Gojek, Andrianto (33). Dia mengkhawatirkan munculnya program-program baru dari aplikator pasca-penurunan potongan 8 persen.

"Kalau dampaknya baik buat driver mah nggak apa-apa sebenarnya. Cuma kadang-kadang jika dirubah-rubah kayak gitu ntar takutnya ada program baru lagi," tutur Andrianto.

"Kayak kemarin tuh nan pas demo-demo itu kan ya tahu-tahu tuh ada program baru lagi nan irit lah, (program) nan berbayar lah. Kayaknya kita-kita juga nan repot," lanjutnya.

Karena itu, dia berambisi pemangkasan menjadi 8 persen ini betul-betul bersih tanpa embel-embel lain. Jika demikian, dia menyebut bisa membawa pendapatan lebih ke rumah.

"Cuma jika semuanya dibikin 8%, jika dari saya pribadi sih seneng Kak. Otomatis pendapatan kita kan bisa lebih. Apalagi jaman jaman krisis kayak gini kan pikiran lagi carut marut tuh. Takut nilai ntar pada naik lah, takut ntar ini nggak bisa bayar anak sekolah lah. Gitu-gitu kan pasti pikiran kombinasi campur tuh," ungkap Andrianto.

"Nah jika semuanya pendapatan kita kayak naik kayak gitu kan ya kayak ada angan gitu kan ya di kita ya. Alhamdulillah kita punya pemimpin kayak Pak Prabowo tuh alhamdulillah merhatiin sama rakyat gitu. Ntar kita lihat aja ke depannya gimana," harapnya.

Driver OjolWaritno Driver Ojol Foto: (Ondang/detikcom)

Harapan besar bakal kebijakan 8 persen ini juga datang dari Pak Waritno (50), pengemudi Maxim. Baginya, setiap rupiah tambahan sangat berfaedah bagi kelangsungan hidupnya. Waritno sebelumnya adalah driver taksi online, namun dia terpaksa menjual mobilnya untuk biaya pengobatan istrinya nan akhirnya meninggal dunia.

"Mobil saya jual semua buat berobat, sekarang sisa motor ini saja. Usaha juga tutup lantaran tidak ada nan meneruskan, akhirnya saya ngojek lantaran aspek usia juga susah cari kerja lain," cerita Waritno.

Kini, Waritno berjuang dengan sepeda motor tahun tua lantaran kendaraannya tidak memenuhi syarat tahun minimal di aplikator lain. Meski orderan di Maxim tidak sebanyak kompetitor, dia tetap berterima kasih dan menanti realisasi potongan 8 persen tersebut.

"Kalau memang turun jadi 8 persen, ya sangat membantu menambah penghasilan. Di Maxim tarifnya memang lebih murah, tapi sehari saya paling dapat 5-6 trip. Kalau potongan kecil, tentu sisa duit buat bensin dan makan jadi lebih ada," kata Waritno.

Diketahui, kebijakan ini disampaikan Prabowo dalam aktivitas May Day 2026 di Monas, Jumat (1/5). Prabowo menegaskan tidak setuju potongan ojol mencapai 20% dan meminta agar jumlah itu dikurangi di bawah 10%.

Adapun kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online.

"Ojol kerja keras, mempertaruhkan jiwanya setiap hari. Ojol aplikator perusahaan minta disetor 20%. Gimana ojol setuju 20%? Bagaimana 15%? Berapa?? 10%, kalian minta 10%? Saya katakan di sini saya tidak setuju 10%," tegas Prabowo di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Jumat (1/5).

"Harus di bawah 10%. Enak aje, lu nan keringat dia nan dapet duit sorry aja. Kalau nggak mau ikut kita nggak usah berupaya di Indonesia," sambung Prabowo.

Perpres Nomor 27 Tahun 2026 tersebut memuat sejumlah aturan, termasuk pemberian BPJS Kesehatan hingga agunan kecelakaan kerja. Lewat Perpres tersebut pemerintah juga mengatur pendapatan bagi pengemudi dan aplikator dibagi dari sebelumnya 80% - 20% menjadi 92%- 8%.

(ond/zap)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News