Prabowo Minta Pengambilan Keputusan di Pertamina-PLN Lebih Cepat

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan keterangan pers berbareng PM Thailand Anutin Charnvirakul usai pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Indonesia, Senin (3/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Presiden Prabowo Subianto meminta adanya percepatan proses pengambilan keputusan di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) skala besar, khususnya di PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).

Hal tersebut diungkapkan oleh Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, usai mengikuti rapat terbatas (ratas) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8). Ia menyebut salah satu konsentrasi utama ratas adalah penyederhanaan struktur birokrasi korporasi pelat merah.

“Berikutnya pengarahan Beliau juga untuk pengurangan layer-layer, terutama di perusahaan-perusahaan BUMN nan besar, Pertamina, PLN, dan nan lain-lainnya, agar pengambilan keputusan juga menjadi lebih cepat, produktivitas mulai meningkat, efisiensi juga lebih terjaga,” ungkap Rosan.

Rosan menuturkan, melalui proses penyederhanaan (streamlining), pemerintah telah mencatatkan pengurangan sebanyak 274 entitas perusahaan pelat merah hingga Juli 2026. Ia memastikan langkah restrukturisasi ini bakal terus berlanjut.

“Streamlining nan sudah kita lakukan kurang lebih sudah 274 perusahaan per akhir bulan Juli kemarin. Beliau juga minta di-update seperti itu,” tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menargetkan total jumlah entitas BUMN dapat terpangkas drastis dari 1.077 perusahaan menjadi hanya 350 perusahaan pada akhir 2026. Pengurangan tersebut dilakukan melalui skema penutupan, konsolidasi, dan merger nan dieksekusi oleh Danantara.

Prabowo sebelumnya mengaku terkejut saat pertama kali menerima laporan mengenai jumlah gurita upaya BUMN nan mencapai ribuan anak, cucu, hingga cicit perusahaan.

“Saya kaget waktu saya jadi presiden saya diberi laporan BUMN itu jumlahnya 1.077, dan ini kudu kita cek lagi ada BUMN nan bikin anak perusahaan, cucu perusahaan, cicit perusahaan,” kata Prabowo pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7).

Hemat Biaya Operasional hingga Rp 80 Triliun

Ilustrasi Danantara. Foto: Iljanaresvara Studio/Shutterstock

Dalam arahannya, Prabowo mengungkapkan penutupan ratusan entitas BUMN nan tidak efisien telah menghasilkan penghematan biaya rutin (overhead) nan masif hingga mencapai Rp 50 triliun. Angka tersebut berasal dari efisiensi penghasilan direksi, komisaris, sewa gedung, biaya utilitas listrik, hingga efisiensi rapat kerja.

Bahkan, pemerintah memproyeksikan nomor penghematan tersebut bakal terus merangkak naik hingga mendekati kisaran Rp 70 triliun hingga Rp 80 triliun menjelang akhir Desember 2026.

Dengan sisa waktu sasaran penggabungan dan penutupan sekitar 700 entitas BUMN hingga akhir tahun ini, pemerintah optimistis perampingan struktur korporasi negara dapat menciptakan ruang fiskal nan jauh lebih sehat dan lincah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan