Suasana di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mencekam setelah perang antarsuku pecah akibat sengketa denda budaya mengenai kasus kecelakaan lampau lintas nan menewaskan personil DPRD Lanny Jaya pada 2024. Bentrokan melibatkan Suku Lanny dan Suku Hubla (Kurima) menggunakan panah serta senjata tajam. Konflik nan pecah sejak Kamis meluas ke sejumlah wilayah di Jayawijaya hingga Jumat (15/5/2026). (Dok. spesial via Detikcom)
Dilansir Detikcom, Kapolda Papua Irjen Patrige R Renwarin mengatakan bentrok dipicu ketidakpuasan terhadap pembayaran denda budaya sebesar Rp2 miliar dan 30 ekor babi nan sebelumnya disepakati melalui musyawarah adat. Kelompok masyarakat campuran disebut telah bayar denda pada 6 Mei 2026, namun pihak Lanny Jaya menilai pembayaran tersebut tidak sesuai kesepakatan sehingga memicu tindakan penyerangan. (Dok. Istimewa via Detikcom)
Kasi Humas Polres Jayawijaya Ipda Efendi Al Husaini mengungkapkan perang antarsuku itu menyebabkan dua orang tewas dan 19 lainnya luka-luka, terdiri atas empat korban luka berat dan 15 luka ringan. Selain korban jiwa, ratusan penduduk juga mengungsi akibat situasi keamanan nan memburuk. Polisi mencatat sebanyak 472 penduduk mengungsi ke Mako Polres Jayawijaya untuk mencari perlindungan. (Dok. spesial via Detikcom)
Bentrok juga memicu pembakaran rumah dan honai di sekitar Kali Uwe Wouma serta meluas ke sejumlah titik seperti Jalan Diponegoro Wamena dan Pasar Wouma. Aparat kepolisian berbareng pemerintah wilayah sekarang terus memantau situasi dan mengedepankan pendekatan dialog, adat, serta pelibatan tokoh kepercayaan untuk meredam bentrok dan mencegah eskalasi lebih lanjut. (Dok. Istimewa via Deikcom)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·