Bagi siapa pun nan pernah berjamu ke China, ada satu halangan nan tidak tertulis di kitab pedoman wisata: sistem pembayaran. Kartu debit dan angsuran internasional seperti Visa dan Mastercard tidak selalu diterima. Hampir seluruh transaksi sehari-hari—dari membeli bubble tea pinggir jalan hingga memesan kereta antarkota—dilakukan melalui WeChat Pay alias Alipay.
Menurut info Statista, sekitar 9 dari 10 pengguna pembayaran online di China menggunakan salah satu dari dua platform ini dalam 12 bulan terakhir. Lebih dari 70 persen transaksi konsumen dilakukan secara nontunai berbasis mobile. Wisatawan asing pun kerap terjebak di antara ekosistem nan tertutup itu.
Satu QR, Dua Bahasa
Kini, ekosistem itu mulai membuka diri. Bank Indonesia dan People's Bank of China telah menyepakati interkoneksi sistem pembayaran kedua negara, memungkinkan pengguna dari Indonesia bertransaksi langsung di beragam merchant di China hanya dengan memindai kode QR, tanpa perlu mengunduh aplikasi lokal alias membuka rekening baru.
Soft launching telah dilakukan pada 30 April 2026, secara simultan di Jakarta dan Beijing. Grand launching dijadwalkan pada Juni 2026 di Shanghai, berbarengan dengan Pertemuan Tingkat Tinggi Program Kerja Bersama Indonesia–China.
Sebanyak 24 penyelenggara dari Indonesia, terdiri dari 16 perbankan dan delapan lembaga selain bank, serta 19 penyelenggara dari China nan siap mendukung konektivitas ini. Momentum ini menjadi langkah krusial dalam mendorong integrasi sistem pembayaran lintas negara, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di ekosistem ekonomi serta finansial digital global.
Peluang nan Perlu Dijemput
China pernah menjadi pasar wisata terbesar kedua Indonesia, dengan lebih dari 2 juta kunjungan pada 2018 sebelum pandemi Covid-19 datang dan memutus tren itu. Kini, pemulihan sektor pariwisata terus berjalan. Berdasarkan info BPS, sepanjang 2025 total kunjungan visitor China mencapai 1,34 juta, dan pada kuartal pertama 2026 sudah mencapai 357.740 kunjungan, naik 25,5 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.
Selain itu, rata-rata pengeluaran visitor China mencapai 1.188 dolar AS per kunjungan pada 2024, lebih tinggi dibandingkan rata-rata visitor Asia lainnya. Jika tren kunjungan kembali ke level 2018, potensi devisa dari pasar China saja bisa melampaui 2,5 miliar dolar AS per tahun.
Konteks makronya pun relevan. Sektor pariwisata berkontribusi 4,9 persen terhadap PDB nasional pada 2025, dan pemerintah menargetkan kontribusi ini naik ke kisaran 4,5 hingga 4,7 persen pada 2026 dengan sasaran kunjungan 16 hingga 17,6 juta wisman. Oleh lantaran itu, rata-rata pengeluaran per kunjungan visitor China nan lebih tinggi dibandingkan rata-rata visitor Asia lainnya menjadi variabel krusial dalam pencapaian sasaran itu. Dengan sistem pembayaran nan sekarang terhubung, halangan transaksi nan selama ini menjadi aspek gesekan dapat dieliminasi, dan potensi shopping itu lebih mudah tersalurkan ke perekonomian daerah.
Pekerjaan Rumah nan Belum Selesai
Konektivitas sistem tidak otomatis berfaedah kesiapan ekosistem. Sekitar 40 persen visitor China masuk melalui Bali dan 38 persen melalui Jakarta. Sisanya tersebar di Batam, Surabaya, dan kota-kota lain nan prasarana penerimaannya belum tentu setara. Wisatawan China nan terbiasa cashless akan menghadapi pengalaman nan terputus begitu keluar dari kota besar. Merchant di lokasi wisata daerah, pelaku upaya kecil, hingga pemandu lokal perlu masuk dalam ekosistem ini, bukan hanya hotel dan pusat perbelanjaan besar.
Karena itu, dibutuhkan mobilitas berbareng dari semua pihak. Pemerintah perlu mendorong percepatan onboarding merchant di luar kota besar, termasuk melalui insentif dan kemudahan registrasi bagi pelaku upaya mini di lokasi wisata daerah.
Bank Indonesia dan penyelenggara perlu memperluas jaringan sekaligus mengintensifkan edukasi agar QRIS lintas negara tidak hanya dikenal di pusat kota. Sementara pelaku upaya dan lokasi wisata perlu bersiap bukan hanya secara teknis, melainkan juga dari sisi kualitas layanan, lantaran visitor China nan datang dengan dompet digital nan terhubung tetap bakal pulang lebih sigap jika pengalaman di lapangan mengecewakan.
Indonesia sudah menembus temboknya. Pertanyaannya sekarang bukan soal sistem, melainkan soal mental: Apakah kita betul-betul siap menarik lebih banyak visitor dan penanammodal China, mendorong ekspor ke pasar terbesar dunia, dan naik kelas sebagai mitra digital nan setara?
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·