Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Membengkak Jadi Rp7.771,7 T

Sedang Trending 4 hari yang lalu
 Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Membengkak Jadi Rp7.771,7 T ilustrasi utang luar negeri(MI/Usman Iskandar)

POSISI utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 membengkak. Bank Indonesia mencatat posisi ULN Indonesia pada April 2026 mencapai US$439,8 miliar alias setara Rp7.771,7 triliun (kurs Rp17.671 per dolar AS), tumbuh 1,9% secara tahunan (year on year/yoy).

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ULN pada Maret 2026 nan sebesar 1,0% (yoy). Sebagai perbandingan, posisi ULN Indonesia pada akhir kuartal I-2026 tercatat sebesar US$433,4 miliar alias sekitar Rp7.658,7 triliun

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan peningkatan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah berlanjutnya kontraksi ULN sektor swasta. "Angka utang luar negeri lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 1,0% (yoy)," ujar Denny dalam keterangan resmi, Senin (15/6).

Denny menjelaskan, posisi ULN pemerintah pada April 2026 mencapai US$216,4 miliar alias sekitar Rp3.824,9 triliun, tumbuh 3,7% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 3,8% (yoy). Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh posisi pinjaman luar negeri nan tumbuh melambat.

Di sisi lain, aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) tetap mencatatkan net inflow, nan mencerminkan terjaganya kepercayaan penanammodal terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN pemerintah terus diarahkan untuk mendukung sektor-sektor produktif. "Ini dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN," kata Denny.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan aktivitas sosial sebesar 22,0% dari total ULN pemerintah, manajemen pemerintahan, pertahanan, dan agunan sosial wajib sebesar 20,5%, jasa pendidikan 16,2%, bangunan 11,5%, serta transportasi dan pergudangan 8,5%. Posisi ULN pemerintah juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah.

Sementara itu, ULN swasta tetap melanjutkan tren kontraksi. Posisi ULN swasta pada April 2026 tercatat sebesar US$193,2 miliar alias sekitar Rp3.413,9 triliun, alias mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,7% (yoy). "Ini lebih rendah dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 1,4% (yoy)," ucap Denny.

Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN golongan peminjam lembaga finansial (financial corporations) nan secara tahunan mencatatkan kontraksi sebesar 5,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan kontraksi pada Maret 2026 nan mencapai 6,3% (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa finansial dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,6% dari total ULN swasta. ULN swasta juga tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa sebesar 75,8% terhadap total ULN swasta.

Bank Indonesia menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat dan dikelola secara hati-hati. Hal tersebut tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nan stabil di level 29,6% pada April 2026. Selain itu, ULN Indonesia didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,5% dari total ULN.

Dalam upaya menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia berbareng pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri. Indonesia juga bakal terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. "Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan akibat nan dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," pungkasnya. (Ins/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia