Seekor burung camar mini di sarangnya, alias cekungan tanah, berbareng anak-anaknya.(Kevin Simmonds/RSPB)
SETIAP musim semi, pantai Ross Sands di Cagar Alam Nasional Lindisfarne, Inggris, kehadiran tamu-tamu mini nan beranjak dari bagian bumi lain. Salah satunya adalah little tern (dara-laut kecil), burung langka nan terbang ribuan mil dari Afrika Barat untuk berkembang biak. Sayangnya, kebiasaan unik mereka nan bersarang langsung di atas pasir pantai membikin keberadaan mereka sangat rentan.
Menurut info proyek pemantauan burung laut British Trust for Ornithology, populasi biak little tern di Inggris merosot 19% antara tahun 1986 dan 2024. Penurunan lebih tajam terjadi pada arctic tern sebesar 25%, dan common tern nan ambruk hingga 63%.
Selain ancaman perubahan suasana seperti kenaikan permukaan air laut, ancaman terbesar justru datang dari manusia. Tingginya kepemilikan mobil dan minat aktivitas luar ruangan membikin pantai ini dipadati hingga satu juta visitor per tahun.
"Burung dara-laut sangat jelek dalam memilih tempat bersarang nan aman," ujar Ginny Swaile, Wakil Direktur Natural England untuk Northumbria. "Mereka bersarang di tempat nan paling terbuka, sehingga orang-orang dapat dengan mudah dan tanpa sengaja menginjak mereka."
Inovasi Pagar Jaring dan Edukasi Pengunjung
Untuk mengatasi masalah ini, Andrew Craggs, Manajer Senior di Lindisfarne, berbareng timnya memasang pagar jaring pendek berarus listrik sepanjang 5 kilometer nan tersebar di delapan titik cagar alam. Pagar ini didesain agar burung tetap bisa keluar masuk dengan aman, namun mencegah predator dan manusia mendekat.
"Di mana pun burung-burung itu mendarat, kami bakal memasang pagar," kata Craggs. "Kami melakukan semua nan kami bisa. Kami bukan penjaga kebun binatang, ini dibuat sealami mungkin. Sebagian besar dari apa nan kami lakukan adalah memitigasi gangguan."
Tak hanya pagar, pihak pengelola juga mengerahkan petugas musiman berkah biaya support Uni Eropa. Petugas nan berjaga di pantai ini bekerja menegur dan mengedukasi visitor agar berhati-hati saat melangkah, menjauhi area pagar, dan memastikan anjing piaraan tetap diikat.
Swaile menambahkan bahwa kehadiran petugas ini sangat krusial untuk menjembatani kurangnya pemahaman masyarakat terhadap alam. "Semakin banyak hubungan nan kami lakukan di cagar alam kami, semakin kami menyadari bahwa orang-orang betul-betul telah kehilangan hubungan [dengan alam]," jelas Swaile.
Hasil nan Mengesankan dan Dampak Ekonomi
Upaya ini membuahkan hasil nan luar biasa. Pada tahun 2020, dari 25 pasang little tern nan tiba di Lindisfarne, hanya 15 nan sukses menghasilkan anak burung nan bisa terbang (fledglings). Namun pada 2025, jumlahnya melonjak drastis menjadi 138 pasangan nan sukses menghasilkan 201 anak burung, sebuah peningkatan lebih dari 12 kali lipat.
"Saya tidak pernah mengira bakal memandang sebanyak itu," ungkap Craggs gembira.
Ketua Natural England, Tony Juniper, menekankan bahwa keberhasilan konservasi ini juga berakibat positif bagi ekonomi lokal melalui sektor ekowisata dan pengamat burung.
"Anda mulai memandang cagar alam nasional bukan sebagai biaya, tetapi sebagai investasi dalam mempertahankan ekonomi regional," tutur Juniper. (The Guardian/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·