Polres Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, tengah mendalami dugaan intimidasi terhadap master Eliza Princila Utami Pakaenoni alias master Icha nan meninggal bumi setelah diduga mengalami tekanan psikologis usai menangani pasien di RS Leona Kefamenanu.
Penyidik tetap memeriksa sejumlah saksi dan berencana memanggil tiga personil DPRD Kabupaten TTU nan dilaporkan family diduga melakukan intimidasi terhadap master Icha saat bekerja di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Kapolres TTU AKBP Eliana Papote mengatakan, seluruh proses penyelidikan dilakukan secara profesional, objektif, dan transparan dengan mengedepankan perangkat bukti serta keterangan para saksi.
"Hari ini proses pengambilan keterangan terhadap para saksi tetap berlangsung. Penyidik terus bekerja mengumpulkan fakta-fakta untuk membikin terang peristiwa ini. Hasil pemeriksaan para saksi nantinya bakal kami laporkan setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai," ujar AKBP Eliana Papote, Minggu (28/6).
Menurut Eliana, interogator bakal memeriksa tenaga kesehatan nan bekerja berbareng master Icha saat piket di IGD pada hari kejadian untuk melengkapi proses penyelidikan.
Selain itu, polisi berkoordinasi dengan pihak RS Leona Kefamenanu guna memperoleh rekam medis mengenai kondisi kesehatan dan psikologis master Icha selama menjalani perawatan setelah kejadian tersebut.
Tak hanya itu, interogator bakal meminta penjelasan dari tiga personil DPRD Kabupaten TTU nan disebut-sebut dalam laporan keluarga.
"Kami juga berkoordinasi dengan mahir pidana dan mahir ilmu jiwa guna mengkaji apakah dugaan intimidasi tersebut memenuhi unsur tindak pidana alias tidak. Semua dilakukan berasas kebenaran dan ketentuan norma nan berlaku," jelas Kapolres.
Polisi Jaga Situasi Tetap Kondusif
Di tengah proses penyelidikan, Polres TTU juga melakukan langkah-langkah preventif untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Polisi telah melakukan pendekatan kepada family master Icha agar mempercayakan penanganan perkara kepada abdi negara kepolisian dan tidak melakukan tindakan nan dapat memicu konflik.
Koordinasi juga dilakukan dengan Ketua DPRD TTU mengenai laporan family kepada Badan Kehormatan DPRD, serta dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten TTU untuk mengetahui perkembangan dan respons organisasi pekerjaan terhadap kasus tersebut.
Selain itu, Polres TTU berkomunikasi dengan organisasi kemasyarakatan dan organisasi kepemudaan agar tidak memanfaatkan rumor tersebut untuk melakukan tindakan nan berpotensi mengganggu keamanan.
Aksi 1.000 Lilin
Kapolres mengungkapkan, pada Sabtu (27/6) pukul 17.30 WITA, IDI Kabupaten TTU berbareng tenaga kesehatan menggelar angan berbareng dan tindakan 1.000 lilin di depan Kantor DPRD Kabupaten TTU sebagai corak belasungkawa atas meninggalnya master Icha.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 peserta.
"Kami menghormati penyampaian aspirasi maupun ungkapan belasungkawa masyarakat sepanjang dilaksanakan sesuai ketentuan nan berlaku," katanya.
Selain menyiagakan personel pengamanan, Polres TTU juga meningkatkan patroli di sekitar rumah family almarhum maupun pihak-pihak nan berangkaian dengan perkara tersebut. Polisi melakukan patroli siber untuk memantau perkembangan info di media sosial serta mengantisipasi penyebaran info nan berpotensi memicu konflik.
Kapolres mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh info nan belum terverifikasi.
"Kami membujuk seluruh masyarakat untuk menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif serta mempercayakan proses penanganan perkara ini kepada Polres TTU. Kami berkomitmen menyelesaikan kasus ini secara profesional, transparan, objektif, dan sesuai dengan ketentuan norma nan berlaku," tegasnya.
Dokter Icha ditemukan meninggal bumi di rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang pada Jumat (26/6). Keluarga menduga korban mengalami depresi berat setelah mendapat intimidasi saat menangani pasien di RS Leona Kefamenanu.
Tiga personil DPRD TTU nan disebut family telah membantah melakukan intimidasi terhadap master muda tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·