Polisi Akan Panggil Pengusaha Taksi Listrik Buntut Kecelakaan Kereta di Bekasi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Jakarta -

Direktorat Penegakan Hukum (Dirgakkum) Korlantas Polri berencana memanggil para pengusaha taksi berbasis kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pekan depan. Langkah ini dilakukan untuk memberikan edukasi mengenai standard operating procedure (SOP) dalam kondisi darurat.

Hal itu disampaikan Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Faizal dalam aktivitas obrolan dengan tema 'Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur', di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/4/2026). Pemanggilan ini buntut kejadian kendaraan listrik nan berakhir di tengah rel berujung tabrakan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

"Minggu depan kami sudah melayangkan surat kepada seluruh pengusaha taksi alias mobil penumpang taksi terutama nan sekarang menggunakan kendaraan listrik alias EV untuk kami kumpulkan," kata Brigjen Faizal.

"Kita bakal memberikan edukasi mengenai masalah gimana SOP-nya dengan melibatkan tentunya dari regulator alias dari dealer/ATPM," sambungnya.

Menurutnya, tetap banyak pengemudi kendaraan listrik nan belum memahami langkah penanganan darurat saat mobil mogok di rel kereta. Sebab itu, kata dia, para pengemudi perlu dibekali pengetahuan tentang perihal itu.

"Beda dengan kendaraan nan manual. Begitu didorong ke gigi netral, tinggal dorong, maju sendiri. Nah, kendaraan listrik ini SOP-nya kemarin pengemudi ada sebenarnya, turun dari mobil, lari. Nah itu SOP-nya mereka, ditinggal itu mobil. Padahal nan paling rawan adalah mengamankan jalur kereta api, ditinggal," jelasnya.

Dia mengatakan setiap kendaraan listrik mempunyai sistem darurat agar tetap bisa dipindahkan meski dalam kondisi mati. Pihaknya bakal melibatkan regulator hingga pabrikan dalam memberikan training kepada para pengemudi.

"Kami bakal panggil regulator, minggu depan seluruh kendaraan-kendaraan nan menggunakan EV kita minta agar diingatkan lagi para pengemudinya ini, diberikanlah pengetahuan, diberikan keahlian gimana langkah mengatasi jika andaikan terjadi perihal seperti ini," jelasnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan tetap tingginya nomor kecelakaan di perlintasan kereta sebidang. Berdasarkan info nan ada, pada 2025 tercatat 66 kejadian dengan 55 korban meninggal dunia, sementara pada awal 2026 sudah terjadi 25 kasus.

"Ini ada komparasi sedikit kami sampaikan bahwa kejadian laka perlintasan sebidang itu tahun 2025 ada sekitar 66 kejadian. nan meninggal 55 (ini lengkap). Kemudian tahun 2026 sampai dengan Januari terakhir kemarin itu ada 25 kejadian," tuturnya.

"Kita berambisi ini nan terakhir sehingga jika kita bandingkan 2025-2026 turun. Ini kita berambisi semua, ini pekerjaan kita semua, sehingga mengikut kepada korban meninggal dunia. Ini adalah info nan kami dapatkan nan juga kami himpun dalam IRSMS nan ada di Korlantas," sambung dia.

Sebagaimana diketahui, KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin (27/4) malam. Peristiwa itu menyebabkan 16 orang meninggal dunia, dan 90 orang lainnya terluka.

Saat kecelakaan, taksi Green SM sempat terhenti di tengah rel kereta api nan tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur lantaran masalah korsleting. Taksi itu kemudian tertemper KRL nan melaju dari Cikarang ke arah Jakarta. KRL nan terlibat kecelakaan dengan taksi itu kemudian terhenti di tengah rel.

Di sisi lain, ada KRL arah Cikarang nan terhenti di Stasiun Bekasi Timur imbas kejadian antara KRL arah Jakarta dan taksi Green SM. KRL nan terhenti di Stasiun Bekasi Timur inilah nan kemudian ditabrak KA Argo Bromo Anggrek nan melaju dari arah Jakarta.

(amw/wnv)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News