Pola Asuh dengan Kekerasan Fisik Menurun, tapi Kekerasan Verbal Justru Meningkat

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: all_about_people/Shutterstock

Banyak orang tua sekarang mulai meninggalkan balasan bentuk saat mendisiplinkan anak. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada corak kekerasan lain nan justru semakin sering dialami anak, ialah kekerasan verbal.

Penelitian nan dipimpin oleh Liverpool John Moores University dan dipublikasikan dalam jurnal BMJ Open menemukan bahwa prevalensi kekerasan verbal pada anak terus meningkat dari generasi ke generasi. Padahal, dampaknya terhadap kesehatan mental anak dapat berjalan hingga dewasa dan tidak kalah serius dibandingkan kekerasan fisik.

Kekerasan Fisik Menurun, Kekerasan Verbal Justru Naik

Ilustrasi anak sedih, anak stres, anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock

Peneliti menganalisis info lebih dari 20.000 orang dewasa di Inggris dan Wales nan lahir sejak tahun 1950-an. Dari info tersebut terlihat adanya perubahan pola kekerasan terhadap anak selama beberapa dasawarsa terakhir.

Pada responden nan lahir antara tahun 1950 hingga 1979, sekitar 20% mengaku pernah mengalami kekerasan bentuk saat kecil. Angka ini turun menjadi sekitar 10% pada mereka nan lahir pada tahun 2000 alias setelahnya.

Namun, tren berbeda terlihat pada kekerasan verbal. Jika pada golongan nan lahir sebelum tahun 1950 sekitar 12% pernah mengalaminya, nomor tersebut meningkat menjadi sekitar 20% pada generasi nan lahir tahun 2000 alias setelahnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa meski balasan bentuk semakin jarang digunakan, sebagian anak justru lebih sering menerima bentakan, hinaan, ancaman, alias kata-kata nan merendahkan.

Kenapa Kekerasan Verbal pada Anak Sering Tidak Disadari?

Berbeda dengan kekerasan bentuk nan meninggalkan luka alias memar, kekerasan verbal tidak selalu tampak dari luar. Karena itu, banyak orang tua maupun orang di sekitar anak tidak menyadari bahwa perilaku tersebut juga termasuk corak kekerasan.

Padahal, menurut para peneliti, kekerasan verbal dapat menjadi sumber toxic stress alias stres berbisa nan memengaruhi perkembangan otak anak. Dampaknya apalagi dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang hingga bertahun-tahun kemudian.

Dalam penelitian tersebut, anak nan mengalami kekerasan verbal diketahui mempunyai akibat lebih tinggi mengalami kesejahteraan mental nan rendah saat dewasa, nyaris setara dengan mereka nan mengalami kekerasan fisik.

Orang Tua Perlu Dibekali Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

Peneliti utama, Profesor Mark Bellis, mengatakan bahwa beragam negara telah sukses mengurangi praktik balasan bentuk terhadap anak melalui kebijakan dan perubahan langkah pandang masyarakat. Namun, menurutnya, upaya tersebut belum cukup jika tidak diiringi edukasi mengenai pola pengasuhan nan positif.

Bellis menjelaskan bahwa ketika orang tua tidak mempunyai pengganti dalam mendisiplinkan anak, kekerasan bentuk bisa saja tergantikan oleh kekerasan verbal nan sama-sama rawan bagi perkembangan anak.

"Tanpa support tersebut, upaya mengurangi balasan bentuk berisiko hanya menggantikan satu corak kekerasan dengan corak lainnya, ialah kekerasan verbal, nan mempunyai akibat jangka panjang nan sama besarnya," ujarnya.

Pentingnya Membangun Komunikasi nan Menghargai Anak

Setiap orang tua tentu pernah merasa lelah, kesal, alias frustrasi saat menghadapi perilaku anak. Namun, penelitian ini menjadi pengingat bahwa kata-kata nan diucapkan kepada anak dapat meninggalkan akibat nan panjang.

Alih-alih membentak, menghina, alias melabeli anak dengan julukan negatif, orang tua dapat mencoba menjelaskan kesalahan anak dengan tenang, menetapkan batas nan jelas, serta mengajarkan akibat dari perilakunya. Pendekatan disiplin nan penuh rasa hormat tidak hanya membantu anak memahami aturan, tetapi juga menjaga kesehatan emosionalnya dalam jangka panjang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan